Laut Indonesia Beresiko Hancur, Menghadapi Banjir Mikroplastik
![]()

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Indonesia, negara maritim terbesar di dunia, kini menghadapi ancaman ganda yang semakin nyata terhadap lautnya: banjir mikroplastik dalam jumlah masif dan pemanasan air laut akibat perubahan iklim.
Jika tidak segera ditangani, ekosistem laut yang menjadi tulang punggung kehidupan jutaan nelayan dan masyarakat pesisir berisiko hancur. Terlebih dalam waktu dekat akan terjadi El-Nino di Indonesia sebagaimana disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini.
Peneliti BRIN (sebelumnya LIPI), M. Reza Cordova, telah mengingatkan sejak tahun 2018 bahwa konsentrasi mikroplastik di perairan Indonesia mencapai kisaran 30 hingga 960 partikel per liter.
Angka ini setara dengan yang ditemukan di Samudera Pasifik dan Laut Mediterania, meski masih lebih rendah dibandingkan pesisir Cina, California, atau Barat Laut Samudera Atlantik.
Meski demikian, Reza menekankan bahwa jumlah tersebut sudah cukup mengkhawatirkan karena dampak jangka panjang mikroplastik terhadap biota laut dan rantai makanan manusia masih banyak yang belum diketahui. “Kita perlu kewaspadaan tinggi dari semua pihak,” tegasnya.
Tak hanya polusi plastik, pemanasan air laut juga menjadi sinyal merah bahwa perairan nasional sedang tidak sehat. Pakar oseanografi fisik Dr. Salveanty Makarim menjelaskan bahwa kenaikan suhu ini merupakan dampak langsung dari perubahan iklim global yang semakin kompleks.
Dalam diskusi yang digelar Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) berjudul “The Role of The Indonesian Seas in the World Ocean Health and Warming Climate” pada 11 Juni 2025, Salveanty mengungkapkan bahwa masyarakat dunia baru benar-benar menyadari krisis iklim sejak awal 2000-an, meski pemanasan global sudah terjadi sejak era Revolusi Industri.
“Selama ini kita hanya fokus pada kerusakan ozon akibat CFC, padahal penyebabnya jauh lebih rumit,” ujar alumnus Xiamen University, Tiongkok ini. Berbeda dengan atmosfer yang relatif mudah dipantau, laut dalam menjadi “wilayah buta” yang sulit diawasi, sehingga kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Fenomena ENSO (El Niño Southern Oscillation) turut memperburuk situasi. Pola iklim alami ini menyebabkan pemutihan karang, perubahan arus laut, gangguan distribusi nutrisi, pergeseran populasi ikan, hingga peningkatan badai tropis. Salveanty memperingatkan bahwa akibat perubahan iklim, ENSO diprediksi akan semakin sering dan intens.
Karena itu gerakan masif pembersihan sungai dan pelestarian mangrove
Pemerintah daerah diminta lebih aktif melibatkan masyarakat dalam menjaga kebersihan perairan. Saat ini, salah satu upaya yang dilakukan adalah penanaman mangrove di Pantura Jawa. (sabar)
