Kucuran Dana Bansos Tingkatkan Produksi Beras
![]()
Laporan: Redaksi

Ilustrasi
BANJAR, (Tubas) – Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan menggelontorkan dana bantuan sosial tahun anggaran 2011 untuk sektor pertanian sekitar Rp 40 miliar. Bantuan tersebut diberikan bersamaan dengan kegiatan panen raya Jabar di Kampung, Sawah Baru, Desa Ciasem Hilir, Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang, pekan lalu. Bantuan tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi beras nasional (P2BN) di Jabar.
Produksi padi Jawa Barat pada tahun 2011-2012 ditargetkan mencapai 12,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Di kota Banjar program bantuan di bidang pertanian yang diberikan pemerintah ternyata belum mampu mendongkrak kesejahteraan petani secara signifikan. Kondisi tersebut pada dasarnya dipicu oleh pola pikir petani sampai terbatasnya lahan pertanian yang tersedia.
Oleh karena itu perlu sinergitas yang mantap antara petani dengan pemerintah, sehingga rangkaian kendala peningkatan pembangunan pertanian di Kota Banjar bisa terwujud secara nyata dan merata.
“Petani dan pemerintah harus bersatu, sehingga peningkatan pembangunan di sektor pertanian bisa terlaksana,” kata Wali Kota Banjar, Herman Sutrisno dalam acara silaturahmi antara Petani dengan Pemrintah yang digelar di Graha Banjar Idaman (GBI) yang dihadiri ratusan petani dan Dinas Pertanian.
Menurut Herman kalangan petani merupakan leading sektor pembangunan pertanian, pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator saja. “Pemerintah hanya memberikan motivasi melalui bantuan atau program-program inovasi. Ujung tombak pembangunan bidang pertanian justru diemban oleh para petani,”‘ katanya.
Terkait terbatasnya lahan pertanian di Kota Banjar, Herman mengatakan hal itu bukan sebuah halangan. “Makanya pemerintah mencanangkan Banjar sebagai kota Agropolitan, walaupun tidak memiliki lahan pertanian yang luas, namun petani Banjar bisa menjadi bandar atau menampung hasil pertan¬ian dari daerah lain,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pertanian Kota Banjar H. Nana Sutarna menegaskan, guna mewujudkan misi tercapainya program swasembada beras di Kota Banjar pada 2013 tidak bisa hanya mengandalkan aksi dari pemerintah saja. Namun, harus ada campur tangan langsung dari masyarakat, khususnya petani. Pemerintah dan petani harus bersatu mencari akar permasalahan yang selama ini mendera sektor pertanian.
“Keterlibatan masyarakat tani untuk membantu pen¬capaian program Pemkot Banjar di bidang pertanian sangat diharapkan. Apalagi, sebagian besar masyarakat di daerah ini masih berprofesi sebagai petani,” ujarnya.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Banjar, H. Toni Rahmat menjelaskan mindset petani yang cenderung enggan menjalankan inovasi pertanian serta takut untuk mencoba hal-hal baru, menjadi salah satu kendala yang paling menonjol.
“Sikap petani yang menjadi seperti itu memang dipicu oleh rasa trauma akibat kegagalan. Padahal kegagalan dalam rangka mencoba teknologi baru, merupakan sebuah proses untuk mendapatkan keberhasilan. Umumnya, satu kali mencoba lantas gagal, para petani biasanya akan kapok,” kata Toni. (mamay)
