Kisah Anak Negeri yang Marah Melihat Barang Selundupan

Loading

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

BAPAK-bapak, ibu-ibu yang kami cintai dan sangat kami banggakan. Kami adalah putra-putri anak negeri yang amat menyayangi tempat dimana kami dilahirkan. Rindu akan suatu prestasi yang hasilnya bisa memberi manfaat bagi orang lain sebagai saudara, para sahabat dan seluruh teman baikku di seluruh tanah air.

Rindu ingin meninggalkan sebuah legasi dengan melahirkan karya-karya besar yang dapat membuat kehidupan kami semua menjadi lebih baik. Kami berjanji akan terus belajar agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi seperti anak negeri di seberang samudera sana. Mimpi kami hanya satu yakni ingin menjadi anak negeri yang mampu membesarkan negeri ini menjadi sebuah negara besar yang karya-karyanya dihargai, diakui dan dikagumi oleh kita sendiri dan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Aku ingin hidup seribu tahun lagi hanya ingin bisa ikut menyaksikan negeriku ini gemah ripah, tentram dan tertib serta hidup mandiri karena segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan dapat dipenuhi dari dalam negeri tidak repot-repot bolak-balik harus mengimpor.

Satu lagi pintaku, jangan biarkan barang selundupan berkeliaran dimana-mana. Apalah jadinya negeri kita kalau di sepanjang waktu yang kita beli, yang kita uber-uber di pasar hanya barang selundupan. Pembiaran, itu berarti negara merestui praktek ekonomi underground. Pembiaran berarti secara sadar ingin negeri ini dikuasai oleh mafia.

Negara rugi dan masyarakat juga rugi. Pembiaran sama saja akan mematikan semangat anak negeri untuk berkarya,melakukan inovasi dan menjadi frustasi. Karena itu marahlah seluruh anak negeri terhadap penyelundupan barang yang tidak siang dan tidak malam masuk ke Indonesia tanpa pernah dilakukan penindakan.

Kita tidak menyoal siapa yang ikut bermain di balik itu. Seluruh anak negeri hanya concern agar penyelundupan diberantas sampai ke akar-akarnya karena bersifat destruktif bagi pembangunan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Sejatinya kami tidak bersikap anti impor asal masuk dengan cara yang benar.

Jujur, impor masih kita perlukan untuk hal-hal tertentu karena di dalam negeri tidak ada yang memproduksi. Namun ketika masih ada pilihan dan pilihan itu memang memenuhi syarat sesuai yang dibutuhkan, maka pilihan itu wajar kalau yang dibeli adalah Karya Indonesia, meskipun barang impor ada di depan mata kita.

Anak negeri hanya butuh fairness. Anak negeri hanya memerlukan perlindungan yang wajar atas barang impor yang masuk secara tidak wajar baik karena alasan penyelundupan maupun karena dijual dengan harga dumping atau mengandung unsur subsidi ekspor di dalamnya. Anak negeri pada dasarnya tidak serta merta menolak Free Trade Agreement (FTA), tapi di dalam negeri, pemerintah harus memberikan akses kemudahan ke sumber daya ekonomi berbiaya rendah, mengurus izin usaha mudah, murah dan cepat tanpa harus dipalakin kiri kanan.

Jangan sampai terjadi lagi gara-gara dipalakin terus-terusan si anak negeri bedol deso pindah ke negeri seberang. Memilukan dan sangat memalukan. Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Kita mau eksis di negeri sendiri dan mau berkarya di bidang industri, pertanian atau di bidang yang lain agar apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan apa yang diperlukan untuk pembangunan dan investasi tidak lagi susah payah harus di impor. Bebaskan kegiatan ekonomi dari segala bentuk penyelundupan, mudahkan dan murahkan ongkos pelayanan publik yang kita perlukan.

Berikan pendidikan dan pelatihan yang memadai dan berkulitas agar menjadi lebih profesional dan kompeten di bidangnya.Indonesia adalah negeriku,negeri milik kita semua.Indonesia tempatku untuk mengabdi dan berkarya. Dan di Indonesia seluruh kebutuhan hidupku semaksimal mungkin dapat dicukupi dari barang-barang hasil produksi dalam negeri. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS