Ketergantungan Impor, Memperlemah Ketahanan Nasional

Loading

Laporan: Redaksi

Direktur Industri Alat Transportasi Darat (IATD) Kementrian Perindustrian, Soerjono

Direktur Industri Alat Transportasi Darat (IATD) Kementrian Perindustrian, Soerjono

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Direktur Industri Alat Transportasi Darat (IATD) Kementrian Perindustrian, Soerjono mengatakan program pengembangan transportasi massal nasional harus jadi prioritas. Namun jangan lupa, program tersebut juga harus bisa dijadikan sebagai peluang untuk mengembangkan industri sarana transportasi massal nasional.

Hal itu diungkapkan Soerjono dalam obrolan dengan tubasmedia.com di kantornya, Senin sekaligus memberi respon atas adanya niat Pemrov DKI Jakarta untuk mengimpor bus yang akan dijadikan angkutan umum.

Menurut Soerjono, program tersebut adalah merupakan peluang domestik dan menjadi tumpuan sebagai basis untuk memperkuat industri sarana transportasi massal nasional serta memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sekaligus melakukan kegiatan ekspor.

Terkait dengan rencana impor bus dari luar negeri, Soerjono mengatakan bahwa mengingat belum adanya ketidakjelasan dalam pengadaan sarana transportasi nasional di dalam negeri, maka dapat dipahami kalau investor industri sarana transportasi nasional di dalam negeri masih ragu-ragu untuk melakukan investasi saat ini.

‘’Akan tetapi, apabila program pengadaan sarana transportasi nasional sudah semakin jelas, maka para investor akan segara melakukan investasi,’’ tegasnya.

Perlu diingat kata Soerjono, bahwa jika kita selalu ketergantungan pada produk impor, maka hal itu akan mengerus devisa yang tidak sedikit nilainya serta pula akan memperlemah ketahanan nasional, di bidang pengembangan industri kendaraan transportasi nasional.

Untuk itu lanjutnya, dalam jangka pendek agar tidak terjadi kebuntuan dalam pelaksanaan penyelenggaraan transportasi massal yang belum tersedia di dalam negeri, importasinya perlu dipertimbangkan untuk dilakukan secara terbatas yang tujuannya adalah tetap memberikan peluang industri transportasi nasional berkembang, namun sekaligus tidak terjadi hambatan pada program transportasi nasional.

‘’Pada dasarnya, kita siap untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, asal kita diberi kepercayaan,’’ tegasnya.

Perusahaan-perusahaan nasional di dalam negeri lanjutnya sebaiknya diberi peluang untuk ikut terlibat mempersiapkan pengembangan transportasi nasional. Apabila tidak, dapat dibayangkan bahwa bila Indonesia dibanjiri oleh produk-produk impor, potensi pasar dalam negeri tersebut akan hilang dan menjadi miliknya produk impor.

Kesimpulan yang Salah

Sementara itu di tempat yang sama, mengomentari maraknya penolakan terhadap program mobil murah, Soerjono menyatakan bahwa sebenarnya mobil murah atau lebih dikenal dengan sebutan low cost green car (LCGC) adalah program nasional yang akan menjadikan Indonesia di masa mendatang menjadi negara produsen otomotif yang tangguh.

Kesimpulan para penolak program LCGC yang menyatakan LCGC merupakan program masalah, menurut Soerjono adalah salah. Pasalnya program LCGC adalah sarana untuk mengembangkan industry serta peluang untuk meningkatkan infrastruktur.

Adalah tidak bijak menurut Soerjono jika karena keterbatasan infrastruktur di dalam negeri, industri mobil dilarang untuk tumbuh berkembang. Jumlah mobil yang berseliweran di dalam negeri seharusnya dijadikan para kepala daerah alat atau alasan untuk menyediakan infrastruktur.

‘’Infrastrruktur itulah yang seharusnya mengikuti perkembangan industri mobil. Jadi jangan dibalik. Masa gara-gara infrastruktur kita kurang bagus lalu kita minta industri mobil murah dihentikan. Coba lah berfikir positif,’’ kata Soerjono.

Soerjono juga mengatakan kalau program LCGC ini mendatangkan investasi yang tidak sedikit nilainya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru serta dapat memperdalam struktur industri otomotif nasional.

Program ini juga katanya mempersyaratkan secara bertahap untuk menggunakan komponen yang diproduksi di dalam negeri yang dalam jangka waktu lima tahun harus mencapai 80 persen. Dengan akan tercapainya penggunaan kandungan lokal 80 persen, dampak ikutannya adalah peluang untuk kita membangun dan memproduksi mobil nasional karena dengan adanya produk-produk komponen umum yang masih memungkinkan dipakai oleh mobil nasional yang lain. (sabar)

CATEGORIES

COMMENTS