Kaya Tapi Tidak Pandai
![]()
Oleh : Fauzi Azis

Fauzi Azis
MAAF kalau judul opini tersebut menjadi seperti itu. Kaya Tapi Tidak Pandai. Tidak ada maksud menyindir atau berolok-olok dengan judul tersebut, kecuali hanya ingin menyampaikan sebuah pesan apa salahnya kalau kita ini kaya dan pandai. Pandai mensyukuri nikmat Tuhan. Pandai karena bisa menggunakan kepandaiannya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Tapi kalau sebaliknya, kaya tapi tidak pandai, maka dapat dibaca dan difahami bahwa kekayaan yang kita miliki dibiarkan menganggur dan dicuri atau dimanfaatkan oleh bangsa lain untuk mensejahterakan warga negaranya.
Dalam konteks yang seperti ini berarti kita bisa masuk dalam kategori tidak pandai mensyukuri nikmat Tuhan dan tidak pandai mengelola kekayaan untuk membuat kita semua senang, hidup sejahtera dan makmur. Kalau seperti ini jadinya, maka kita menjadi bangsa yang merugi.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki pengharapan agar rakyatnya dapat sejahtera dan berkemakmuran. Sebagai bangsa yang besar pasti memiliki cita-cita yang luhur agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia dalam membangun perekonomiannya. Ambisi Bung Karno kala itu adalah luar biasa cita-citanya, dengan penuh percaya diri ingin menjadikan bangsa ini bisa melaksanakan progam berdikari.
Alasannya cukup masuk akal dan dapat dipertanggung jawabkan, yang paling mudah kita sebut karena bangsa ini kaya raya. Sumber daya alam semua ada di republik ini, tanahnya subur tersebar dari sabang sampai merauke. Pilar dan pondasi tersebut sangat tepat dipancangkan karena kita bercita-cita ingin menjadi digdaya, superpower di bidang ekonomi dan tidak bergantung kepada bangsa lain atau diinfiltrasi oleh bangsa lain untuk mengambil dan menguras segala macam kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini.
Tapi politik selalu berbicara lain, sehingga cita-cita tersebut menjadi buyar dan tak berujud hasilnya dan hanya tinggal kenangan. Padahal kalau progam berdikari berhasil, maka terbayang oleh kita bahwa kemiskinan dan pengangguran mungkin tidak ada karena semua produk yg dihasilkan dapat diserap habis oleh daya beli masyarakatnya sendiri.
Industri yang menghasilkan kebutuhan rakyat banyak akan dapat beroperasi pada skala produksi yang optimum karena seluruh produksinya dapat diserap oleh pasar. Impor mungkin tetap ada tapi hanya sebagai pelengkap saja. Neraca pembayaran pasti akan aman dari gangguan eksternal, sehingga stabilitas perekonomian dapat lebih terjamin.
Di zaman globalisasi, kebijakan berdikari tetap kontekstual dan realistis sepanjang kita semua mufakat bulat untuk menjalankannya. Orang pandai di negeri ini makin banyak jumlahnya dan harapannya tentu agar kepandaiannya tersebut digunakan untuk membuat bangsa ini menjadi pandai untuk mengolah kekayaannya.
Tidak hanya pandai tetapi tidak pandai mengelola kekayaannya sendiri. Atau hanya pandai menjadi penonton saja atau sekedar menjadi juragan kaya yang tak pandai dan tak pernah berkarya dan berprestasi. Kepandaiannya hanya terpakai hanya untuk menjadi broker, makelar tanah, calo penjualan sumber daya alam fosil/non fosil tanpa pernah berfikir tentang kemaslahatan bersama.
Mereka adalah hanya segelintir manusia yang beruntung, tetapi berdiri di atas kepalanya manusia-manusia Indonesia lainnya yang tidak beruntung alias merugi. Mereka adalah orang-orang yang pandai tapi tidak beretika karena tidak pernah mau mengerti dan memahami makna sebuah konstitusi negara sebagaimana diatur dalam pasal 33 dan 34 UUD 1945.
Pada akhirnya mereka itu adalah benar-benar menjadi orang kaya tapi tak pandai. Mereka itu ngakunya kelompok elite bangsa yang dapat membawa kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Selalu berbicara atas nama rakyat dan kalau dilihat dari background pendidikannya bisa dibilang mereka itu adalah sekelompok elite yang pandai.
Pandai tapi tidak cerdas, pandai tapi sebenarnya tidak pandai. Pandai tapi hanya bisa debat kusir, otot-ototan tanpa dasar-dasar pijakan berfikir yang rasional, mencerdaskan tapi malah menyesatkan. Kita tidak tahu apakah waktunya masih cukup untuk berbenah. Atas seizin Tuhan, kita harus percaya bahwa masih cukup waktu bagi kita untuk berbenah agar kita semua kembali sadar bahwa kita adalah bangsa yang kaya karena anugerah Tuhan kekayaan sumber daya itu diberikan oleh-Nya kepada kita.
Tapi akan manfaat yang besar bagi kehidupan kita bersama kalau kita semua pandai mengelolanya. Bangsa ini dikaruniai kepandaian oleh Tuhan bukan hanya sekedar untuk menjadi broker, calo dan makelar. Tapi kepandaian itu harus digunakan untuk membangun kesejahteraan dan kemakmuran. Bukan pula hanya pandai menjadi juru gadai.***
