Jangan Bersedih
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi
MUSIBAH dan cobaan silih-berganti bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Pada saat musibah dan cobaan datang, kita diminta bersabar dan jangan bersedih. Dan pada saat berkah dan nikmat menghampiri hidup kita, sikap yang sangat arif, kita diminta untuk bersyukur dan berbagi.
Kita mengharapkan wawasan kebangsaan dan kenegarawanan seluruh komponen bangsa dalam mengelola kehdupannya di dunia mengikuti alur itu. Yakin dan percayalah kalau proses dan alurnya mengikuti cara pandang seperti disinggung di awal tulisan ini, Indonesia akan stabil, aman, dan damai.
Tahun 2013 ini, menurut perkiraan berbagai kalangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melemah. Mas Chatib Basri selaku Menteri Keuangan dan sebagai salah satu ekonom andal, sangat tahu dan paham mengapa hal Itu harus terjadi. Target pertumbuhan tahun ini sebesar 6,3% bakal sulit diraih. Investasi akan turun, konsumsi juga akan turun atau melambat pertumbuhannya.
Pada semester I 2013, investasi PMTB hanya bisa tumbuh 5,9%. Padahal, pada semester I 2012 mampu tumbuh 9,9%. Itulah fenomena dalam kehidupan ekonomi, kadang naik dan kadang turun. Dan itulah sebuah realitas yang harus diakui, karena hukum pasar berbicara seperti itu. Realitas sebaiknya tidak perlu dibantah.Dan dengan mengakui realitas, kita malah bisa bercermin dalam posisi apa adanya.
Mas Chatib Basri yang mengetahui apa yang terjadi di balik itu, pasti akan bersikap realistis, karena memang, baik karena pengaruh eksternal maupun internal, situasi seperti itu akan terjadi. Ekonomi tahun ini memang harus melambat pertumbuhannya, karena kelelahan dan kepanasan. Karena itu, bersabarlah. Ekonomi kelihatannya memang harus ikut beristirahat sejenak.Tidak perlu dikoreksi, kalau lelahnya sudah habis dan panasnya sudah turun, mudah-mudahan akan segera bergerak kembali, bangkit, dan tumbuh.
Di saat yang demikian, harusnya kita melakukan sujud syukur karena kita telah dibebaskan dari musibah kecil,yaitu melambatnya pertumbuhan ekonomi. Sedih, gembira, senang, dan susah juga harus mengikuti ritme kehidupan yang seperti itu. Iklim atau cuaca saja berubah-ubah. Semua juga bisa berubah-ubah.
Mencukupi Kebutuhan
Karena itu, tidaklah perlu mengambil sikap bersedih. Biarlah pertumbuhan ekonomi bergerak mengikuti sumbunya. Sepanjang masih dalam garis edar, percayalah bahwa meskipun ekonomi tumbuh melambat, dia masih bisa mencukupi kebutuhan hidup seluruh bangsa ini asal mau saling berbagi.Yang kaya membantu yang lemah dan seterusnya.
Cobalah Pak presiden dan jajarannya, kelola negara ini dengan cara tadi.Tidak perlu serius mengotak-ngatik rumus Y= I+C+G+(X-M). Faktor Y memang kita perlukan, karena katanya, kalau Y-nya melemah orang miskin dan pengangguran akan berkurang. Bung, jangan terlalu pede, bahwa Y itu sikapnya nurut saja. Bayangkan kalau faktor I-nya banyak tersumbat oleh lemak kolesterol.
C-nya juga tertahan oleh arus. Inflasi.X-nya harus turun sejenak, karena yang mau beli juga lagi pada puasa, di samping karena tabungannya berkurang. M-nya harusnya juga ikut turun, karena semua faktor yang lain turun. Bagaimana faktor G-spotnya? Jangan dikorupsi dong, nanti tidak berkah dan bisa-bisa malah negara ini akan terus ditimpa musibah.
Pak SBY tenang saja. Jangan bersedih Pak, dan sabar saja, ekonomi memang sedang mengalami kepanasan. Disiram air berapa tangki pun tidak akan bisa menurunkan panasnya, karena penyakit yang diderita oleh negara ini adalah ekonominya berbiaya tinggi, sehingga sebentar-sebentar mudah memanas.
Mumpung lagi bulan puasa, mari kita lakukan pertobatan secara tulus, karena harus diakui, selama 10 tahun terakhir, kita telah banyak berbuat salah. Ingkar janji dan sebagainya. Dan yang seperti itu jika kita lakukan dengan ikhlas, negeri ini akan gemah ripah.
Jangan bersedih, itulah realitas kehidupan. Biarlah sementara pertumbuhan ekonomi menikmati masa istirahatnya.Yang penting istirahatnya jangan kebablasan, sehingga akhirnya terjadi resesi lagi. ***
