Industri Kerajinan Tangan Kesulitan Bahan Baku
![]()
Laporan: Redaksi

Ilustrasi
KLATEN, (TubasMedia.Com) – Beberapa perajin handycraft (kerajinan tangan) dari bahan kayu, akhir-akhir ini mengeluh tentang adanya bahan baku berupa potongan-potongan kayu yang sangat sulit didapat. Biasanya perajin membeli potongan-potongan tersebut dari pabrik meubel untuk konsumen lokal maupun ekspor.
“Berhubung banyak pabrik maupun industri meubel yang tutup karena bangkrut, saya kesulitan mencari bahan baku” ujar Budi W seorang perajin di Kujon, Ceper. Memang bahan baku dimaksud tidak sembarang kayu, tetapi jenis kayunya khusus seperti sonokeling, jati maupun mahoni.
Karena jenis kayu tersebut memiliki tekstur dan serat kayu yang bagus, sehingga kalau dibuat kerajinan sangat menarik perhatian pembeli dan juga tahan lama. Di tempat terpisah, Tubas saat mengunjungi desa Jombor, Ceper juga mendengar keluhan yang sama dari perajin sejenis yaitu kesulitan bahan baku.
“Untuk kerajinan seperti ini kami tidak mungkin beli kayu yang utuh, karena akan rugi dan harga jual kami tidak mungkin bisa mengejar harga bahan baku,” jelas Wiji salah satu perajin.
Sebagai solusinya mereka harus bisa memanfaatkan sisa potongan kayu dari home industri yang bahannya dari kayu Jati kebun maupun pinus demi berlangsungnya produksi mereka. Memang harga dari kerajinan tersebut terbilang murah dibanding nilai seni dan tingkat kesulitan membuatnya, yaitu berkisar antara Rp.25.000 – Rp.35.000, tergantung besar kecilnya barang.
Hasil kerajinan tersebut berupa prototype dari mobil / motor kuno, tempat tissue, tempat perhiasan, tempat buku dll, yang semuanya terbuat dari kayu.
Dalam hal ini rupanya Pemda setempat kurang memberikan perhatian adanya kesulitan para perajin tersebut demi kelangsungan usaha mereka disamping juga untuk peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah). (sugeng haryanto)
