Daya Saing Produk Ekspor RI ke AS Terkikis, Tarif Impor Indonesia Lebih Mahal Ketimbang Negara Pesaing

Loading

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pengenaan tarif barang yang dijual Indonesia ke Amerika Serikat (AS) sebesar 32% menjadi ancaman bagi perekonomian domestik yang tak bisa dipandang remeh, ketika pada saat yang sama negara-negara pesaing terdekat mendapatkan tarif lebih rendah.

Daya saing produk ekspor RI ke Amerika bisa makin terkikis karena beban tarif yang lebih mahal ketimbang negera pesaing, terutama untuk produk andalan ekspor yang selama ini mendukung kinerja dagang Indonesia.

Sebagai gambaran, ekspor Indonesia terbesar ke Amerika Serikat adalah produk mesin elektrik dan peralatan sekitarnya, perekam suara dan televisi (HS85). Share ekspor produk mencapai  15,9% dari total ekspor RI, seperti dikutip dari paparan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Sarasehan Ekonomi 8 April silam.

Kelompok produk lain yang jadi andalan ekspor RI ke AS adalah pakaian dan aksesori, rajutan (HS61), di mana share ekspor-nya mencapai 9,4% dari total ekspor RI di mana itu setara dengan 61,4% dari total ekspor kelompok produk tersebut dari Indonesia ke seluruh dunia.

Selanjutnya, ada kelompok produk alas kaki, pelindung kaki dan sejenis (HS64) yang proporsi ekspor ke AS mencapai 9,1% dari total ekspor Indonesia dan setara 33,8% dari total barang sejenis ke seluruh dunia.

Lalu, ada juga kelompok pakaian dan aksesorisnya tidak termasuk rajutan (HS62) di mana share ekspor produk ini ke AS setara dengan 8,1% dari total ekspor Indonesia keseluruhan.

Dari empat kelompok produk ekspor utama RI ke AS tersebut, negara-negara yang jadi pesaing utama ada beberapa. Di antaranya China, Meksiko, Vietnam, lalu Kamboja, Italia dan Bangladesh.

Daya Saing Susut

“Pesaingnya siapa aja? China, Kamboja, Bangladesh, Thailand, Vietnam. Ya kita lihat, relatif seperti apa? Tarif yang dikenakan, kita paling rendah. Kalau musuh kita selama ini, Vietnam 46%, kita 32%. Kita untung 14%,” ujar Purbaya.

Nah kini, ketika tarif yang dikenakan ke negara-negara pesaing tersebut lebih rendah ketimbang tarif yang dikenakan Trump ke Indonesia, tantangannya menjadi lebih rumit. Tarif yang lebih tinggi berarti harga barang yang dijual oleh RI ke Amerika menjadi lebih mahal sehingga daya saingnya susut.

Ambil contoh untuk kelompok HS85, pesaing utama Indonesia adalah China, Meksiko dan Vietnam. Tiga negara itu dikenakan tarif lebih rendah ketimbang Indonesia, masing-masing ‘hanya’ sebesar 30% setelah berhasil mencapai kesepakatan pada pertengahan Mei lalu.

Kemudian Meksiko juga terkena tarif sekitar 25%. Sedangkan Vietnam malah cuma 20%. Sementara Indonesia terkena tarif 32% yang potensial mencapai 42% bila ancaman Trump terhadap negara-negara anggota BRICS sebesar 10% jadi kenyataan.

Sementara tarif Bangladesh masih lebih tinggi ketimbang RI, yaitu sebesar 37% berdasarkan pengumuman Trump pada 7 Juli kemarin. Adapun Italia yang tergabung dalam Uni Eropa, menghadapi ancaman tarif 20% yang saat ini masih proses negosiasi juga.

Beban tarif yang lebih tinggi ketimbang negara eksportir pesaing tentu bisa berdampak pada kinerja perdagangan RI. Maklum saja, posisi AS sangat strategis bagi kinerja perdagangan Indonesia selama ini.

Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Negeri Paman Sam selama periode Januari-Mei mencapai US$12,11 miliar.

Angka itu setara dengan 11,42% dari total ekspor nonmigas Indonesia. Amerika Serikat adalah negara tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia, hanya kalah dari China.

Ketika produk andalan kalah saing, bukan tidak mungkin tekanan yang dihadapi oleh pabrik-pabrik di dalam negeri yang sudah besar akibat kelesuan daya beli, akan semakin besar ke depan.

Sebut saja sektor tekstil dan alas kaki yang sudah banyak bertumbangan sejauh ini akibat serbuan barang impor serta penurunan penjualan karena pelemahan daya beli.

Indonesia juga perlu mewaspadai potensi tambahan tarif yang diungkap Trump menargetkan negara-negara BRICS. Apabila Indonesia terkena tarif final dari AS sebesar 32% plus 10%, efeknya tidak bisa dianggap remeh. (sabar)

CATEGORIES
TAGS