AS Memberlakukan 32 Persen Terhadap Produk Indonesia, Said Didu; Pertanda Indonesia tidak Direken AS

Loading

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menyemprot pemerintah menyusul keputusan Amerika Serikat yang tetap memberlakukan tarif 32 persen terhadap Indonesia.

Said Didu menegaskan keputusan tersebut menunjukkan posisi Indonesia yang sama sekali tidak diperhitungkan.

“Artinya Indonesia tidak diperhatikan,” kata Said Didu di X @msaid_didu (8/7/2025).

Pernyataan itu disampaikan Said Didu sebagai respons atas unggahan jurnalis senior Uni Lubis yang mengungkap data menarik terkait proposal perdagangan yang diajukan Indonesia kepada Amerika Serikat.

Dalam proposal tersebut, pemerintah Indonesia menawarkan skema kerja sama dagang dengan nilai jumbo, yang mencakup berbagai sektor mulai dari pertanian, energi, hingga penerbangan.

Dalam unggahan Uni Lubis, terungkap bahwa Indonesia berkomitmen untuk membeli produk-produk asal Amerika Serikat dengan nilai total mencapai 34 miliar dolar AS atau sekitar Rp550,8 triliun.

Angka fantastis tersebut setara dengan pembelian sejumlah komoditas penting dari Negeri Paman Sam.

Pembelian terbesar berasal dari sektor pertanian, di mana Indonesia berencana mengimpor kedelai, bungkil kedelai, gandum dan kapas dalam jumlah besar.

Impor kedelai disebutkan mencapai 3,5 juta ton dengan nilai sekitar 2,4 miliar dolar AS, sementara bungkil kedelai sebesar 1,52 miliar dolar AS, gandum senilai 500 juta dolar AS, dan kapas sekitar 215 juta dolar AS.

Tak hanya itu, komitmen besar juga datang dari sektor energi, di mana pemerintah Indonesia berencana membeli produk-produk energi dari AS dengan nilai mencapai 15 miliar dolar AS.

Di antara produk tersebut, LPG tercatat senilai 3 miliar dolar AS, minyak mentah 4,25 miliar dolar AS, dan bensin mencapai angka 8 miliar dolar AS.

Selain sektor pertanian dan energi, kerja sama besar juga dirancang dalam sektor penerbangan.

Indonesia disebutkan akan menggelontorkan dana sebesar 3,2 miliar dolar AS untuk pengadaan pesawat hingga tahun 2029, dan sekitar 11,2 miliar dolar AS untuk layanan perawatan pesawat hingga tahun 2041.

Namun, meskipun pemerintah Indonesia menawarkan paket kerja sama dengan nilai fantastis ini, pemerintah Amerika Serikat tetap memutuskan untuk mengenakan tarif 32 persen terhadap produk-produk asal Indonesia.

Uni Lubis dalam cuitannya bahkan menyindir proposal yang dikirim pemerintah Indonesia itu dengan sebutan surat cinta karena nyatanya tak mampu meluluhkan keputusan keras AS tersebut.

“Dengan proposal seperti ini, lewat surat cinta dengan dua tanda seru, Trump memutuskan Indonesia tetap dikenakan tarif 32 persen,” ucap Uni Lubis.(sabar)

CATEGORIES
TAGS