Belajar Menjadi Pendengar yang Baik
![]()
Oleh: Doddy Yanuar

Ilustrasi
UNTUK membangun masyarakat yang damai, seyogyanya kita dapat bersikap saling sayang menyayangi dengan pengorbanan. Kasih sayang itu menjadi landasan sebagai bentuk berbakti kepada Tuhan. Kasih sayang yang tulus dengan pengorbanan bukan sesuatu yang mudah bagi manusia biasa, apalagi mereka yang belum mampu merendahkan ego.
Tidak mudah untuk melakukan bukan berarti tidak dapat dilaksanakan, asal ada niat dan mau belajar serta melatih diri. Melatih diri dari hal yang kecil-kecil yang ada di sekitar kita, kepada orang yang terdekat. Salah satu cara melatih membangun kasih sayang kepada sesama adalah mau belajar menjadi pendengar yang baik.
Hal ini dilatih dikala seseorang mengemukakan pendapatnya, atau memberikan masukan-masukan dan kita sebagai pendengar harus dapat mendengarkan dengan disertai rasa tawakal, ikhlas dan sabar disanalah kita harus mengendalikan “ego” kita yang terkadang merasa sudah lebih pandai, lebih mengetahui, dan sebagainya.
Sebenarnya kita sendiri menyadari bahwa kadangkala seseorang membutuhkan orang lain untuk mendengarkan apa yang dirasakannya sebagai rasa suka dan duka atas apa yang dia alami dalam suatu kejadian.
Walaupun pada saat itu juga kita mengalami cobaan, namun tetap sebisa mungkin berusaha menerima apa yang mereka ungkapkan. Ada kalanya juga kita berhadapan dengan seseorang yang sulit untuk berkolaburasi bertukar pikiran, berbagi pendapat dalam menghadapi permasalahan bersama. Disinilah kesabaran yang lebih besar diperlukan untuk menerapkan kasih sayang apabila kita sungguh-sungguh mau membangun budi pekerti yang baik.
Mau mendengar pendapat orang lain yang tidak sependapat dengan jalan pikiran kita adalah suatu pengorbanan, dan apabila dilaksanakan dengan ketulusan akan membuahkan kesabaran dan kehalusan budi.
Menerima pendapat orang lain saja pun masih belum cukup apabila tidak saling bersinergi, tidak saling memberi masukan atas permasalahan yang timbul. Sehingga sulit untuk mencapai “Win-win solution” (tidak ada yang dirugikan antara antara kedua belah pihak) yang sebetulnya hal itu dapat dilakukan. Disinilah perlunya kesadaran pengorbanan untuk berbuat baik dalam memberikan waktu, memberikan bantuan pikiran, dan apabila memungkinkan memberikan tenaga sebagai tindak lanjut setelah mencapai “Win-win solution”.
Salah satu kewajiban sebagai hamba Tuhan adalah mau saling menolong dalam berbuat baik, agar kehidupan bermasyarakat yang damai dapat diwujudkan sesuai kehendak Tuhan. Hal ini dapat diamalkan dengan cara memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berapresiasi dalam ide-de membangun dan saling berkolaburasi dalam tindakan dan pikiran.
Hal ini juga membentuk pergaulan yang baik dalam masyarakat. Pergaulan yang baik dengan dilandasi rasa kasih sayang inilah buah dari mau mendengar orang lain dengan baik.
Tentu semua orang pada dasarnya membutuhkan lingkungan yang damai, pergaulan yang baik, sehingga ia dapat berkehidupan dengan tenang, dapat melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Tuhan dengan baik, memenuhi kewajiban sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara, semua itu dapat dimulai dari mau menjadi pendengar yang baik. ***
Penulis tinggal di Surabaya
