Bahaya, Pengempul Lebih Kuat dari Petani
![]()

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Petani di Indonesia semakin tidak sejahtera. Tingkat kesejahteraan petani berdasarkan Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2012 sebesar 105,2 persen dan terus turun hingga 102 persen pada tahun 2014.
Menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, Kamis (26/3/2015), masalah pangan tak bisa dijauhkan dari kesejahteraan petani.”Bahaya kalau pengepul lebih kuat dari petani,” katanya
Penurunan NTP, tambah Huda menunjukkan daya beli yang menurun seiring pergerakan harga yang terus melambung. Masalah ini salah satunya akibat disparitas harga yang tinggi antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen.
Dampaknya terjadi disisentif petani sehingga produktivitas menurun dan perlu impor. Petani menjadi tersudut oleh ketergantungan modal kepada pengepul, sehingga pengepul membeli produk dengan harga yang murah. Perbankan belum mampu masuk ke sektor ini
Peneliti INDEF, Mohammad Reza Hafiz menambahkan selama 2002-2013, jumlah rumah tangga petani (RTP) berkurang secara signifikan. Selama 203 -2013 kepemilikan lahan kurang dari 0,1 hektar turun drastis 53 persen.Pemilik lahanm dari 3 hektar meningkat 22,8 persen . “Lahan pertanian semakin banyak dikuasai perseorangan” katanya
Menurut Indef Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) perlu lebih berperan dalam pengawasan ke pasar petani. KPPU perlu menggunakan metode ilmiah yang fleksibel dalam melihat perilaku kartel ataupun kolusi di pasar petani. Bulog harus menjalankan fungsinya sebagai agen pemerintah dalam mengtasi masalah tersebut.(rel/siswoyo)
