Wajan di Almari

Loading

Oleh: SM. Darmastuti

Ilustrasi

Ilustrasi

BU Shandra, teman arisan saya di Dharma Wanita membeli lagi seperangkat alat masak. Kali ini, dia membeli wajan anti lengket dan panci serba guna yang kemudian ditambah bonus cetakan puffertjes anti lengket juga. Ketika dia mencoba membujuk saya untuk ikut membelinya, saya katakan bahwa saya sudah punya wajan anti lengket, panci dan juga cetakan puffertjes yang meskipun terbuat dari baja, tapi tidak lengket; karena cetakan milik saya adalah warisan dari ibu, dan kayaknya juga warisan dari eyang, yang sudah beratus-ratus kali bahkan mungkin ribuan kali dipakai sehingga permukaan cetakannya halus.

Bu Shandra tertawa sambil memperlihatkan cetakan puffertjesnya yang baru, yang enteng dan tidak sulit mencucinya. Tiga bulan kemudian ketika saya diundang rapat di rumahnya dan hidangan disajikan di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur, saya melihat pembantunya mengambil masakan (yang akan dihidangkan) dari panci aluminium yang sudah penyot dan hitam.

Di sebelahnya saya juga melihat ada wajan yang dipakai menggoreng. Bukan wajan yang tiga bulan lalu dia beli, melainkan wajan aluminium yang sama penyoknya. Iseng-iseng saya tanyakan mengapa panci dan wajan barunya tidak dipakai? Saya agak geli juga mendengar jawaban bu Shandra: “Wajan, panci dan cetakan puffertjesnya masih di dalam kardus bu, belum saya buka. Kayaknya sayang kalau pembantu yang pakai barang mahal seperti itu.”

Dia lalu menunjukkan pada saya almari tempat dia menyimpan barang. Ternyata apa yang dia beli di arisan Dharma Wanita dari tahun ke tahun, hanya dia simpan dan belum pernah dipakai satu kalipun. Alasannya sama: sayang harganya mahal, toh alat yang lama masih dapat digunakan.

Saya jadi teringat sebuah ceritera tentang seorang suami lansia yang membongkar almari pakaian isterinya dan mendapati sepotong gaun sutera yang mahal dan masih rapi disimpan dalam bungkusnya.

Istrinya pernah berceritera bahwa gaun mahal itu akan dipakai untuk kesempatan yang amat istimewa. Si suami menangis dan hanya dapat menoleh ke arah peti mati, karena saat itu Jeany, istrinya, terbujur kaku pada usianya yang 80 tahun, dengan ukuran tubuh tiga kali lipat ukuran baju yang dibeli puluhan tahun yang lalu. Baju sutera itu tidak pernah dipakainya.

Ternyata banyak teman-teman saya yang berperilaku seperti bu Shandra dan Jeany: membeli, menumpuk, menyimpan barang tanpa mau memanfaatkannya dan akhirnya tidak sempat menikmati yang dia miliki sampai ajal merengut. Ketika kita nanti dipanggil pulang ke hadirat Tuhan, semua kepemilikan kita mau tidak mau kita tinggal.

Rumah indah, mobil mulus, tabungan, anak, cucu, tetangga, orang-orang yang kita cintai, semua kita tinggalkan. Perabotan rumah tangga yang kita punya pun ditinggalkan, celakanya kadang tidak dapat dimanfaatkan oleh anak-cucu kita juga, karena mereka telah memiliki seleranya sendiri. Barang-barang seperti itu bukan mustahil akan “tetap tinggal” di almari entah sampai kapan.

Tuhan melengkapi hidup kita sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Terkadang Beliau juga mengijinkan apa yang kita “inginkan” terwujud. Selagi kita dapat menikmati apa yang kita miliki di dunia, semestinya kita manfaatkan semua itu. Raga kita yang sehat, uang kita yang lebih dari cukup guna kebutuhan hidup normal, selayaknya kita gunakan juga untuk berkiprah di dunia selaras dengan kehendak Tuhan.

Jangan simpan kepandaian, jangan hanya dibiarkan lewat kekuatan yang kita miliki dan jangan hanya ditumpuk kemampuan yang seharusnya dapat kita berikan kepada sesama. Oleh karena jika demikian, maka kita tidak lebih dari bu Shandra dan Jeany yang akhirnya meninggal tanpa dapat memanfaatkan apa yang dimiliki. Pakailah pakaian yang apik yang kita punyai, pakailah parfume kesayangan kapan saja kita mau, pakailah sepatu yang tadinya hanya kita simpan, karena hidup ini singkat.

Bahkan belajarlah memakai teknologi modern ketika pikiran masih memungkinkan. Tetapi yang lebih penting dari semua itu, pakailah raga yang masih kuat ini untuk mencari ilmu yang benar dan melaksanakan karya agung Sang Khalik sesuai kemampuan kita. Karena sekali lagi, hidup ini hanya singkat. Ketika raga kita mulai rapuh, ketika kita hanya dapat duduk di kursi roda menunggu giliran dipanggil Sang Khalik, setidaknya pernah ada ceritera betapa indahnya masa muda kita saat masih dapat aktif di dunia ini.

Sebuah nasehat dalam buku Olah Rasa di Dalam Rasa yang saya hidup-hidup dalam hati, demikian: “Selagi engkau masih muda, sehat walafiat dan masih mempunyai banyak waktu, segeralah mencari ilmu yang benar untuk bekal hidupmu di dunia sampai di akhirat. Adapun ilmu yang benar adalah petunjuk yang menunjukkan jalan benar, jalan yang sampai pada asal tujuan hidup, sebagaimana telah disabdakan oleh para rasul, yang tertera dalam kitab-kitab suci.”

Semoga saja ilmu yang telah kita miliki sekarang ini dapat kita manfaatkan, sehingga tidak seperti gaun sutera Jeany yang tidak pernah dia kenakan atau wajan bu Shandra yang hanya diam di almari. ***

Penulis tinggal di Jogjakarta

CATEGORIES
TAGS