Slamet Rahardjo Belajar Bahasa Inggris Lewat Kamus

Loading

Laporan: Redaksi

Slamet Rahardjo

Slamet Rahardjo

JAKARTA, (Tubas) – Kecintaannya terhadap seni peran membuatnya menjadi seorang aktor senior di Indonesia. Slamet Rahardjo, yang semasa kecilnya dipanggil Memet ini lahir di Serang, Banten, 21 Juni 1949 memulai kariernya di dunia seni peran bersama Teguh Karya lewat Teater Populer.

“Jogja membentuk pribadi saya dari berbagai macam segi. Saya dibesarkan di Jogja oleh eyang saya,” tutur Slamet dalam perbincangan dengan Tubas.

Slamet saat berusia 14 tahun diajarkan untuk selalu disiplin dan fokus dalam mengerjakan sebuah hal. “Setiap pagi saya disuruh eyang menimba air, harus bangun lebih awal dibandingkan adik-adik saya..” ungkapnya mengenang masa kecilnya.

Dibesarkan oleh kakek yang fanatik terhadap agama, membuat Slamet mempunyai dasar moral yang cukup kuat. Selain itu Slamet dikenalkan juga seni dan budaya. “Tidak mungkin orang mengenal agama tanpa mengenal budaya terlebih dahulu,” tutur Slamet.

Setelah dewasa, Slamet hijrah ke Jakarta. “Dengan penanaman nilai agama yang cukup kuat, serta pengenalan seni dan budaya yang begitu besar terhadap diri saya, saya merasa mempunyai bekal yang cukup untuk mandiri dan berkarya..” ujar Slamet.

Setiba di Jakarta, Slamet banyak menimba ilmu di dunia seni peran di Akademi Teater Nasional Indonesia dan Akademi Film Nasional Jayabaya hingga tahun 1968 ia bertemu Teguh Karya. Teguh Karya katanya, banyak mengolah dan membentuk pribadinya sebagai seorang seniman panggung.

Bersama Teguh Karya, kariernya mulai menanjak di seni teater dan kemudian Slamet mencoba berakting di layar film. Film Ranjang Pengantin (1974) merupakan film yang membuat akting Slamet diperhitungkan dalam dunia perfilman. Melalui aktingnya di film itu, Slamet mendapatkan penghargaan “Piala Citra” sebagai pemeran aktor terbaik.

Kecintaannya pada dunia seni peran terus membuat Slamet berkarya dan berkarya. “Saya suka baca, semua buku saya baca apalagi yang berkaitan dengan seni peran dan teater, mau yang bahasa Indonesia sampai bahasa Inggris, saya dulu gak pernah belajar bahasa Inggris saya belajar sendiri, kamus saya sampai jebol, rusak,” ungkap Slamet.

Slamet juga pernah mencoba terjun di dunia politik bersama adiknya Eros Djarot. Namun, menurutnya dunia tersebut kurang pas dengan pribadinya. “Saya bilang sama Eros, udah deh lu aja yang begini, gue gak cocok kayaknya, saya rasa kesenian itu lebih aman, lebih baik bagi saya, lebih jujur.. kok kayaknya kalau politik banyak intrik sana sini..” tutur Slamet.(menur asri kuning)

CATEGORIES
TAGS