Siapkah Warga Menjadi Pelayan Turis di Bandara Silangit ?
![]()

Oleh: Sabar Hutasoit
PEMERINTAH telah mencanangkan kalau Bandar Udara (Bandara) Silangit yang terletak di Siborong-borong, Tapanuli Utara itu akan dikembangkan menjadi bandara internasional. Tentu untuk mendukung rencana indah itu, diperlukan perbaikan disana-sini, terutama infrastruktur pendukung.
Angkasa Pura (AP) II selaku pengelola Bandara Silangit sedang melakukan pembangunan terminal bandara hingga dapat beroperasi secara maksimal saat Natal dan Tahun Baru tahun ini.
Selain menampung lonjakan arus penumpang suasana Natal dan tahun Baru, pengembangan Bandara Silangit juga diharapkan menjadi bandara penghubung para wisatawan asing dan domestik yang akan berdarmawisata ke kawasan Danau Toba.
Sebagai bandara bertaraf internasional, pembenahan Bandara Silangit diproyeksikan tuntas tahun 2017. Yang dimaksud tuntas mungkin adalah pelebaran landasan pacu, pembangunan terminal kedatangan dan keberangkatan serta pembenahan interior ruangan dan penyediaan sarana dan prasarana pendukung.
Lalu bagaimana dengan sarana pendukung lainnya, sebutlah rumah makan, hotel, penginapan, pusat penjualan souvenir dan oleh-oleh atau buah tangan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan sumber daya manusia sebagai penerima tamu atau layak disebut sebagai pelayan tamu-tamu yang datang berdarmawisata ke daerah tersebut.
Sudah siapkah SDM kita disana ? Pertanyaan ini penting sekali untuk dijawab sebab selama ini kehidupan warga di wilayah bandara adalah sebagai petani dan pasca pengembangan bandara akan berubah menjadi pelayan turis.
Mengubah pola hidup dari petani menjadi pelayan turis, bukanlah masalah sepele, sebab selama ini sebagai petani, tidak pernah ada yang memerintah. Hidup sebagai petani atau pedagang di daerah Tapanuli Utara, manajernya adalah dirinya sendiri dan tidak pernah ada yang memerintah atau yang menyuruh.
Pengamat wisata, Gani Silaban ketika dihubungi di kediamannya mengatakan pekerja di sektor wisata, harus benar-benar tenaga yang professional di bidangnya. Jangan dipaksakan seseorang bekerja sementara orang itu tidak menguasai lapangan pekerjaannya.
Bagaimana caranya agar kehadiran Bandara Silangit sebagai bandara internasional, tidak menjadi menara gading bagi warga sekitar dan warga sekitar-pun jangan hanya sebagai penonton akan kemajuan yang telah menghampiri desanya.
Turis asing dan lokal sudah datang mengantar rezeki melalui Bandara Silangit, tentu hal ini harus disambut dengan hangat dan penuh persaudaraan.
Di semua titik sekitar Bandara Silangit dan Danau Toba harus ditempatkan tenaga-tenaga kerja yang handal dan professional serta kreatif yang mau menerima dan melakukan perubahan serta pembaharuan.
Kembali kepada penyediaan tenaga kerja yang handal di sektor wisata, tampaknya pemerintah setempat, sudah saatnya mendirikan sekolah pariwisata agar SDM yang terjun ke lapangan sudah memiliki modal atau sudah memiliki sertifikasi kompetensi di bidang wisata.
Catatan lain yang perlu diperhatikan adalah sarana pendukung di sekitar Bandara Silangit, apakah itu restoran, penginapan atau toko-toko souvenir, sudah segera disediakan. Jangan pula dilupakan oleh-oleh khas kedaerahan yang barang tentu mutu pelayanannya juga harus prima.
Berdasarkan data, jumlah pengunjung melalui Bandara Silangit diperkirakan sekitar 250 orang setiap hari. Sebuah angka yang menggembirakan. Jika setiap orang dari pengunjung itu membelanjakan uangnya Rp 100.000 setiap hari, maka uang yang beredar sekitar Rp 25 juta setiap hari dan setiap tahun ada penambahan peredaran uang sekitar Rp 9 miliar.
Angka yang sangat signifikan dibanding nilai proyek pemerintah yang mungkin hanya ratusan juta rupiah setiap tahun, itupun harus direbut oleh sejumlah kontraktor. Masih mending jika pengerjaan proyek itu berjalan sesuai bestek yang tertulis.
Padahal jika kehadiran para turis ini kita rawat dan jaga, maka angka peredaran uang sedikitnya mencapai Rp 9 miliar setiap tahun, kemungkinan besar akan terus bertambah. Itupun jika nilai belanja harian hanya Rp 100.000 per orang perhari, belum termasuk biaya hotel atau penginapan serta belanja oleh-oleh. (penulis adalah seorang wartawan)***
