Setiap Peristiwa Mengandung Pelajaran

Loading

Oleh: Muhsin

Ilustrasi

Ilustrasi

“TIAP peristiwa mengandung suatu pelajaran”, memang kalimat yang agak aneh didengar. Biasanya orang menghubungkan kata “pelajaran” dengan “sekolah” atau “tempat pendidikan”.

Yang dimaksud dengan pelajaran disini adalah segala sesuatu yang berguna untuk meningkatkan derajat kejiwaan (budi pekerti yang baik), jadi bukan terbatas pada menambah ilmu pengetahuan saja.

Setiap peristiwa dapat dimasukkan dalam salah satu dari dua golongan yaitu golongan yang pertama: peristiwa yang berhubungan dengan diri kita. Sedangkan golongan kedua yang tidak berhubungan dengan diri kita.

Pertama, peristiwa yang berhubungan dengan diri kita. Apabila dalam peristiwa itu diri kita yang menjadi sasaran (obyek), maka ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama perasaan kita dapat menjadi positif. Kedua perasaan dapat menjadi negatif. Perasaan positif terjadi apabila perasaan menerima peristiwa yang terjadi, perasaan menjadi senang, gembira dan sebagainya.

Sedang perasaan negatif muncul ketika peritiwa yang terjadi tidak kita sukai. Perasaan menolak pada peristiwa tersebut, menjadikan perasaan sedih, kecewa, dongkol dan sebagainya.

Jika peristiwa yang terjadi pada kita menjadikan perasaan positif, hendaknya kita sadar bahwa yang kita alami adalah atas anugerah Tuhan. Kita harus bersyukur dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan demikian kita tidak merasa paling beruntung sendiri.

Oleh karena perasaan merasa senang sendiri dapat meninggikan ego kita, yang mengakibatkan tumbuh kesombongan. Perlu disadari bahwa semua yang terjadi adalah atas kebijaksanaan Tuhan. Meningginya ego akan membuat kita lupa kepada kekuasaan dan kebijaksaan Tuhan yang tetap berjalan, walau tanpa kita sadari.

Pelajaran apakah yang terkandung di dalam peristiwa yang mengakibatkan perasaan positif? Jawabnya sudah disebutkan, yaitu: jangan sampai peristiwa itu menyebabkan meningginya ego kita yang berarti merendahkan budi pekerti kita. Selain itu mengajarkan kita untuk lebih bersyukur, bersujud kepada Tuhan. Kemudian pelajaran apa yang terkandung ketika perasaan menjadi negatif? Peristiwa itu menjadi pengukur, sampai dimanakah kita dapat memelihara budi pekerti yang baik.

Sebab apabila kita telah memiliki budi pekerti yang baik, maka perasaan negatif tidak akan pernah muncul. Sukar atau mudah kita membuang perasaan negatif merupakan pertanda bahwa sampai dimana derajat kejiwaan kita membangun budi pekerti yang baik. Perasaan negatif muncul karena tidak ada keikhlasan, tidak ada rasa tawakal, tidak ada kejujuran dan tidak ada kesabaran terhadap peristiwa yang dihadapi. Jadi, peristiwa itu berguna sebagai pengukur dan juga sebagai pendorong untuk lebih bersungguh-sungguh berniat memiliki budi pekerti yang baik.

Pada peristiwa, dimana diri kita yang memegang peranan (menjadi subyek), di sanalah kita mendapat kesempatan secara aktif untuk melaksanakan dalam praktek kehidupan sehari-hari meningkatkan budi pekerti. Jadi, meningkatkan budi pekerti tidak hanya sebagai wawasan saja, tetapi harus dapat diwujudkan dalam diri kita sebagai dasar membangun masyarakat yang memiliki moral yang baik atau tidak menjadi sekedar slogan saja. Demikianlah pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa yang langsung mengenai diri kita.

Kemudian tentang peristiwa yang tidak berhubungan dengan diri kita sendiri. Dalam hal ini kita hanya berlaku sebagai penonton. Tetapi hendaknya menjadi penonton yang aktif. Aktif dalam arti dapat menggunakan peristiwa itu sebagai contoh atau teladan. Sebab dalam setiap peristiwa terdapat pihak yang berlaku sebagai subyek (pemegang peranan) dan pihak yang berlaku sebagai sasaran (obyek).

Hubungan yang terjadi antara pemegang peranan dan sasaran dalam peristiwa itulah yang harus kita teliti. Kita teliti dengan menggunakan kacamata budi pekerti yang baik. Kita teliti apakah peristiwa itu mengandung kasih sayang yang tulus, yang harus dimiliki setiap hamba Tuhan apabila ia ingin selamat menempuh kehidupan di dunia ini sampai di akhirat.

Dengan demikian akan terlihatlah nanti, apakah hubungan itu sesuai dengan kacamata tadi. Akhirnya, kita dapat menyimpulkan apa manfaat dari peristiwa itu. Jadi, peristiwa itu memberi pelajaran, apakah peristiwa itu dapat dicontoh atau harus dihindari, agar kita tidak membuat suatu kesalahan seperti yang mungkin terjadi pada peristiwa itu.

Semoga kita dapat membaca setiap peristiwa yang terjadi di lingkungkan kita dalam kehidupan sehari-hari dengan waspada didasari rasa kasih sayang dan kesadaran sebagai hamba Tuhan. Apakah peristiwa mengenai diri kita atau tidak, hendaknya sebagai suatu pelajaran untuk meningkatkan budi pekerti kita menjadi lebih baik.

Penulis tinggal di Bandung

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS