Pujian Datang, BBM “Tumbang”

Loading

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

PUJIAN dari berbagai kalangan terus disampaikan kepada Indonesia, yang memprediksi akan menjadi negara adidaya ekonomi dunia, peringkat ke-7, pada 2030. Terima kasih dunia dan semoga dapat menjadi kenyataan. Pemerintah “ngaruh” terhadap berbagai prediksi yang dibuat oleh lembaga internasional dan keterpengaruhan itu wajar, karena pemerintah sangat berkepentingan.

Yang lain, apakah juga “ngaruh“, misalnya politikus? Rasa-rasanya tidak. Kalangan politikus lebih senang membahas masalah Bank Century, merajuk, menghujat, curiga kepada rezim yang berkuasa, dan sebagainya.

Hari-hari ini, kita dihadapkan lagi pada masalah kelangkaan bahan bahan minyak atau BBM dan daging sapi yang langka untuk mencari pemimpin yang kredibel. BBM langka karena keputusan politis yang tidak kredibel dan tidak realistis. Isu besarnya adalah soal subsidi BBM. Secara politis, kalangan pejabat pemerintah dan DPR menjadi tidak berpikir rasional, proporsional, dan realistis karena pada kenyataannya demand terhadap BBM bersubsidi dan nonsubsidi terus meningkat seiring perrtumbuhan ekonomi yang kian membaik.

Fakta lain, produksi setagnan dan bahkan cenderung turun. Fakta yang lain lagi, jatah kuota BBM subsidi di beberapa daerah sudah habis. Mereka pun minta ditambah tidak dipenuhi. Ini apa-apaan? Kerja dengan cara seperti ini yang menutup mata dan telinga. Kita lagi senang membaca dan mengikuti berbagai perkembangan kinerja perekonomian nasional. PDB-nya bisa tumbuh rata-rata 6%. Pendapatan per kapitanya sudah mencapai USD 3.000 lebih per tahun. Buying power-nya makin hari makin membaik. Selama kurun waktu 1999-2009, kelas menengahnya sudah meningkat 2 x lipat. Sekarang, jumlahnya sudah sekitar 134 jiwa atau hampIr 60% dari total jumlah penduduk.

Pengeluaran per hari antara USD 2-20. Jika angka-angka itu benar, maka wajarlah kalau permintaan BBM dari sebagian besar masyarakat Indonesia meningkat. Kondisi ini tidak bisa dibendung dan tidak bisa dikorbankan. Oleh karena itu, logika politiknya harusnya bersifat adaptif dan responsif terhadap logika sosial-ekonomi yang realitasnya memang sudah sampai pada posisi itu, meskipun kita tahu bangsa ini masih menghadapi problem kemiskinan dan pengangguran.

Kelas Menengah

Dinamika ekonomi kelas menengah sangat tinggi dan kita bisa lihat sendiri kenyataannya di lapangan. Kapasitas moda angkutan umum antarprovinsi di darat, udara, dan laut rata-rata bisa mendekati 70-80% pada saat liburan. Belum lagi kendaraan pribadi. Saat long week end kita bisa lihat sendiri dinamikanya.

Fenomena ini positif bagi pengukuran indikator bahwa ekonomi masyarakat benar-benar bergerak secara dinamis. Jadi, wajar dan sangat masuk akal kalau kebutuhan BBM juga terus meningkat. Yang tidak masuk akal dan tidak wajar, keputusan politiknya.Yang paling baik adalah naikkan segera harga BBM subsidi menjadi Rp 5.000 atau Rp 6.000 per liter. Silakan ketok palu.

Tingkatkan produksi BBM di dalam negeri dan kendalikan impor BBM. Jangan bimbang dan ragu. Jangan pula berpikir untuk “berselingkuh” atau “berkongkalikong” untuk menambah pasokan impor. “Bau terasinya” sepertinya mau impor BBM dan daging sapi, karena alasan klasik, yaitu suplai kurang dan permintaan meningkat. Ngono yo ngono, tapi ojo ngono. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS