Petani Menyayangkan Kenapa Harus Impor Kedelai

Loading

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

YOGYAKARTA, (TubasMedia.Com) – Pada dasarnya, kedele lokal sebetulnya tidak kalah enak bila dijadikan bahan dasar untuk tempe dan tahu. Contohya, di daerah Dlanggu, Klaten, Bantul dan Gunungkidul masih banyak yang menggunakan bahan dasar tahu dan tempe dari kedele lokal. Nyatanya kualitasnya tidak kalah degan kedele impor yang dikenal lebih besar serta lebih menghemat.

Sebetulnya, saat kedele impor masih dikelola Puskud dan Primkopti, mencari keuntungan mengutamakan kedele impor disebabkan ada dua hal. Kedele impor memang sedikit menghemat biaya, disamping saat direbus lebih cepat matangnya dibandingkan kedele lokal. Menurut Tukino selaku petani kedele lokal dan pembuat tahu tempe selama ini dirinya sudah turun temurun mengunakan kedele lokal.

Kenyataannya, kedele lokal yang ukuran diameternya terkesan kecil, saat dikonsumsi pelanggannya sehat-sehat saja dan enak juga. “Jika para pengusaha tahu dan tempe mau kembali ke tempo dulu yang selalu menggunakan kedele lokal, saya kira tidak akan terjadi seperti sekarang mencari bahan bakunya mahal. Di jual ke pasar pun tempe, terpaksa ukurannya dikecilkan,” kata Tukino.

Ia menambahkan, sebetulnya sejak tempe dan tahu diciptakan, dulu tidak tergantung dengan kedele impor. Kedele impor masuk setelah ada penjatahan untuk kelompok pengusaha tahu tempe yang tergabung di Primkopti. Pada saat itu mulanya karena lahan tanah yang untuk ditanami kedele terbatas.

Sementara penggemar tempe dan tahu makin banyak, tentu membutuhkan bahan baku lebih banyak. Maka, tercetuslah impor kedele..Saat itu, Presiden Soeharto menunjuk Menkop membentuk Puskud dan Primkopti menjadi barometer para pengusaha tahu dan tempe.

Saat ini tidak usah menyalahkan para petani kedele lokal yang tidak bisa menyediakan produksi pertanian ‘kedele’. Kalau tidak diberi kesempatan dan lahan yang lebih bagus, padahal Gunungkidul, Kulonprogo dan Bantul, bisa dijadikan pusat percontohan kedele lokal. Asal ada perhatian pemerintah, karena petani tidak mau rugi ganda saat menanam bibit itu. Ketika panen, harga tidak sesuai dengan modal yang ditanam. (bani)

CATEGORIES
TAGS