Peran Orang Tua terhadap Anak
![]()
Ketika bayi berada dalam kandungan ibu, semua kebutuhan si bayi dalam kandungan telah dicukupi oleh si ibu, karena mengingat si bayi masih bersifat a-sadar, pasif, penerima, tidak ada otonomi terhadap ibu, sehingga si bayi belum ada keinginan dan kemauan, misalnya makan, minum, tidur dan sebagainya, tetapi secara biologis tetap membutuhkan zat-zat yang sehat guna pertumbuhan badan jasmani kasarnya dan zat-zat yang tidak dibutuhkan atau dapat mengganggu proses pertumbuhan badan jasmani kasar disaring melalui placenta.
Hal ini dijelaskan oleh Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso dalam bukunya Arsip Sarjana Budi Santosa, 1989, hlm. 85 sebagai berikut. “Selanjutnya anak di dalam kandungan tidak ikut campur tangan apa-apa tentang kehidupan diri pribadi. Segala-galanya diurus dan ditanggung oleh si ibu. Juga dalam hal mengambil zat-zat yang biasanya didapat dari pernapasan dan makanan, si anak tidak ikut bertanggung jawab. Semua itu diselesaikan oleh ibu. Pernapasan, pencernaan, urusan temperatur badan, pembelaan diri terhadap serangan kuman-kuman, dan hubungan dengan dunia luar diurus dan ditanggung oleh ibu. Semua itu termasuk hal-hal yang vital.
“Kebutuhan secara alamiah itulah yang dirasakan si bayi, apabila ada sebagian zat yang sangat dibutuhkan, secara otomatis dirasakan oleh si bayi, misalnya kekurangan vitamin demi pertumbuhan, kekurangan kebutuhan tersebut wujudnya si ibu menginginkan sesuatu, ingin makan ini dan itu. Hanya saja kebutuhan si bayi yang disalurkan melalui si ibu kadang-kadang dipengaruhi oleh pikiran dan nafsu sang ibu, yaitu keinginan. Keinginan-keinginan yang dialami seorang ibu yang biasanya disebut ngidam.
Sekarang timbul pertanyaan, ngidam itu harus dituruti atau tidak. Jawabannya terserah kepada ibu yang bersangkutan sesuai dengan kemauannya. Kalau dirasa keinginan itu wajar dan masuk akal, demi kesehatan badan jasmani kasar si jabang bayi di dalam kandungan ibu, maka sebaiknya keinginan itu dituruti. Kalau keinginan itu aneh-aneh, itu berarti bahwa kerja nafsu si ibu sudah terlalu besar, sehingga tidak dapat dikendalikan, keinginannya selalu harus dituruti (dilaksanakan). Dalam hal yang demikian sebaiknya tidak perlu dituruti dan anak nantinya tidak akan (ngiler) ngeces karenanya, sikap ini sebenarnya salah satu pendidikan anak sebelum lahir.
