Penataan Pasar Gede Selaras Dengan Sejarah
![]()
Laporan : Redaksi

Ilustrasi
SOLO, (Tubas) – Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung W Sutirto, menilai rencana penataan Pasar Gede selaras dengan sejarah perjalanan wilayah tersebut.
Dia menganggap pengembangan tersebut hanya mencakup sebagian kecil dari sejarah pluralitas kaum Tionghoa dengan pribumi di sana. “Kalau mau benar-benar dikembangkan seperti masa lampau, harusnya sepanjang Jalan Urip Sumohardjo juga disasar. Namun saya akui cukup sulit melihat kondisi wilayah itu saat ini,” tuturnya saat ditemui tubasmedia.com di UNS.
Tundjung memaparkan, pada masa lalu kawasan Jalan Urip Sumohardjo menjadi model pluralitas yang ideal, meskipun di wilayah itu didominasi kaum etnik Thionghoa.
Oleh sebab itu, dirinya menilai pengembangan wilayah Jalan RE Martadinata sebagai kawasan pecinan tak perlu dirisaukan. Apalagi, katanya, pengembangan tersebut hanya menyasar segi fisik, penambahan ornamen-ornamen serta revitalisasi arsitektur adalah soal menghidupkan nilai sejarah.
“Beda lagi kalau pengembangannya mengarah pada perubahan perilaku yang menjurus ke eksklusivitas,” katanya. Tundjung mengusulkan pembentukan paguyuban atau konsorsium bersama untuk memayungi pedagang maupun warga.
Di sisi lain, Komisi III DPRD mempertanyakan kekurangan dana untuk penataan kawasan Pasar Gede yang nilainya mencapai Rp 16,4 miliar. Pasalnya, Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) tidak pernah membahas kekurangan dana itu. (slamet abidin)
