Pembangunan Berkelanjutan – Berkeadilan – Inklusif
![]()
Oleh: Fauzi Aziz
KILAS balik atau kesadaran atau kodrat konsep pembangunan berkelanjutan, berkeadilan, dan inklusif. Opini ini lebih cenderung memilih sebagai kodrat manusia yang ditakdirkan untuk hidup berpasang-pasangan, antara laki dan perempuan. Dalam sebuah peristiwa sakral yang disebut nikah adalah kodrat untuk membangun masa depan dalam kehidupannya bersama yang berkelanjutan, berkeadilan dan inklusif.
Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, konsepsi yang dianut pada dasarnya sama sebagai sebuah cita-cita. Bercita-cita seperti itu adalah mulia, karena kodratnya memang begitu. Menjadi rusak dan tercerai-berai karena manusia meninggalkan kodratnya.
Ketika makin lama makin dirasakan bahwa ketidakseimbangan makin dirasakan oleh manusia, ada perasaan takut jadi korban kehancuran bumi, takut sesak napas, karena bumi tempat mahluk hidup tinggal dan mencari makan sudah sangat kotor penuh dengan CO2.
Kondisi ini kemudian yang menyebabkan sadar dan berkilas balik secara sadar bahwa ada yang salah, dan semoga kesadarannya terlahir karena melanggar kodrat. Sehingga manusia sedunia, para ahli, dan para pemimpin dunia membangun komunike bersama bahwa konsep pembangunan harus berkelanjutan, berkeadilan, dan inklusif pendekatannya.
Berkelanjutan dan berkeadilan selain kodrat sekaligus adalah kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup yang lain. Sedangkan inklusif maknanya semua manusia pada dasarnya harus dilibatkan dalam prosesnya.
Bahkan dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan pengendaliannya. Dengan demikian, pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan menjadi tanggung jawab bersama secara berjamaah bagi seluruh umat manusia di belahan dunia manapun, tanpa kecuali karena sifatnya inklusif.
Kerusakan bumi yang sudah terjadi, maka umat manusia pada dasarnya secara proporsional mempunyai tanggung jawab yang sama untuk ikut memperbaiki.Yang masih tersisa dan belum sempat rusak, umat manusia sejagat berwajib pula untuk ikut menjaga dan memeliharanya agar yang tersisa itu memberikan manfaat bagi kehidupan.
Kesempatan
Jika kita pahami dari dimensi keimanan, maka pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan yang bersifat inklusif itu sejatinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada umat manusia agar sempat memiliki tabungan yang cukup untuk modal ketika hari kiamat datang.
Memberikan kesempatan agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan dan menghasilkan kebaikan dalam segala lini input, proses, output, outcome, dampak dan manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Dari segi biaya, melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan bersifat inklusif, ongkosnya murah, karena semua sharing, baik secara tangible maupun secara intangible. Siapa bilang mahal dan kemudian sampai harus berutang kiri-kanan.
Menjadi mahal ditambah harus berutang karena manusia berpikir untung-rugi, bukan karena kesadaran bahwa semua harus ikut berbagi tanpa harus susah payah berhitung untung-rugi. Pada akhirnya, memang berpulang kepada umat manusia mau membuat tabungan di sisa waktu atau tidak. Harapannya harus mau, karena output, outcome, dampak, dan manfaatnya akan kembali dirasakan oleh manusia sedunia. ***
