Nilai Tukar Lunglai, Masyarakat Kelas Menengah “Asoy”
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi
KETIKA pemerintah disibukkan oleh upaya menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar, dunia nyata asyik-asyik saja. Betapa tidak, di Jakarta terjadi hingar-bingar oleh pertunjukan grup band metal rock dari AS, Metallica, Minggu, 25 Agustus 2013 malam. Pada Sabtu, masyarakat Jakarta juga disuguhi pertandingan sumo yang sengaja didatangkan dari Jepang. Di Kemayoran sana, digelar acara spektakuler, X-Factor In The World, dalam rangka ulang tahun ke-24 RCTI.
Jauh sebelumnya, masyarakat penggemar sepakbola disuguhi atraksi permainan bola kelas dunia oleh klub nasional Belanda, Arsenal dan dari Inggris, Chelsea. Semua tiket habis demi menonton klub-klub kesayangannya. Rupiah terpuruk emangnya gue pikirin. Inilah realitas di dunia nyata. Semangat demikian rupanya tidak pernah peduli akan situasi ekonomi di negeri sendiri.
Pemerintah sedih, takut dan sangat khawatir, krisis ekonomi kembali melanda Indonesia.Tapi, rupanya masyarakat kelas menengah baru tidak peduli pada ajakan kencangkan ikat pinggang, tahan sejenak untuk tidak berbelanja barang-barang impor yang tidak dibutuhkan. Pajak barang mewahnya dinaikkan atau kredit konsumsi dimahalkan, tampaknya akan lewat begitu saja.
Begitu pula niat untuk mengurungkan jalan-jalan ke luar negeri nyaris tak berpengaruh apa-apa bagi kalangan kelas menengah baru. Malah, di pasar spot terjadi aksi ambil untung, yaitu melepas dolar di tangan, bukan bermaksud ikut kontribusi menstabilkan nilai tukar, tetapi benar-benar hanya ingin menikmati keuntungan dari selisih kurs.
Golongan kelas menengah baru Indonesia ini, katanya, mempunyai discretionaly income yang lumayan besar. Mereka dengan semangat hedonisnya, lagi maruk belanja dan jalan-jalan ke luar negeri yang dapat memuaskan keinginannya.Tindakan pemerintah secara fisik dan administratif mengendalikan impor barang konsumsi tidak akan berdampak signifikan terhadap pengurangan volume dan nilai impor, karena di samping volume impor tidak besar, yakni hanya sekitar 10% dari total impor. Gaya hidup golongan kelas menengah nyaris tak peduli dengan soal pembatasan impor.
Harmonisasi Regulasi
Mendatangkan Metallica, Paula Abdal dan kawan-kawan, serta pemain sumo, klub Arsenal, dan Chelsea, pasti membutuhkan dolar untuk membayar mereka. Kebijakan yang paling dibutuhkan oleh negeri ini untuk menyehatkan perekonomian adalah mengefisienkan sistem perekonomian yang tidak didistorsi oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Yang diperlukan di negeri ini adalah kepastian hukum dan harmonisasi regulasi serta pelayanan birokrasi yang efisien. Pemerintah bolak-balik mengatakan, tingkatkan penggunaan produk dalam negeri, tapi pada kenyataannya, pada paket kebijakan ekonomi itu tidak tersentuh.
Menyulap neraca transaksi berjalan agar menjadi surplus dalam jangka panjang hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Oleh karena itu, Indonesia harus membangun ketahanan ekonomi dengan menggunakan pendekatan double strategy, yakni strategi substitusi impor dan strategi promosi ekspor. Sektor-sektor pemboros devisa harus menjalankan kedua strategi itu dan pemerintah, termasuk pemda, harus mendukungnya secara penuh melalui instrumen kebijakan dan program-program yang lebih terarah.
Laksanakan secara konsisten semua kebijakan dan program yang sudah menjadi prioritas pada skala nasional dan daerah. Hal ini perlu ditekankan karena pemerintah suka bersikap tidak konsisten dan lari dari prioritas, karena ada tekanan dan pesan sponsor. ***
