Kala Senang Sayang, Kala Susah Kabur
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi
UNGKAPAN seperti judul opini ini adalah hal yang jamak terjadi sebagai perilaku sebagian manusia di muka bumi. Padahal, dari sudut pandang etika dan moral, setiap manusia semestinya harus bisa hidup dalam keadaan suka dan duka. Cinta kasih antarsesama manusia yang sejati harus berjiwa saling menyayangi dan tidak boleh saling menyakiti. Oleh karena itu, kondisi apa pun yang menimpa harus bisa dirasakan bersama dan bisa diatasi bersama. Jangan kalau ada uang, dinda sayang.
Namun, patron kehidupan yang seperti itu rupanya tidak sepenuhnya berlaku dalam sistem ekonomi liberal. Manusia nyaris berperilaku seperti ungkapan yang menyatakan sebagai serigala bagi manusia lain. Sikap yang lebih mementingkan diri sendiri dan abai terhadap kepentingan manusia yang lain. Dalam istilah latin disebut sebagai homo homini lupus.
Hilang rasa kemanusiaannya. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS termasuk disebabkan sikap perilaku manusia yang disebut investor global yang tidak pernah “mengenal tanah airnya”. Yang ada di benaknya adalah senang dan gembira manakala uang yang dibenamkan dalam satu investasi portofolio di pasar uang dan pasar modal di negara manapun mendatangkan keuntungan yang optimal.
Manakala rugi, atau sudah makin tipis tingkat capital gain-nya, maka tanpa permisi, bahkan tanpa ada tanggung jawab apa pun, mereka akan segera kabur. Persis kalau ada yang menyebut bahwa sistem ekonomi finansial yang seperti itu dikatakan bentuk casino capitalism. Kabur dan membawa lari dolarnya pasti akan membuat nilai tukar rupiah letoi dan IHSG-nya merosot.
Investor Kabur
Pemerintah yang tunduk pada patron kebijakan ekonomi yang liberal akan meriang dan demam tinggi disertai dengan tangisan ketika investor membawa kabur dolarnya. Para pemangku kebijakan ekonomi di negeri ini lebih merasa bersalah dan bersedih ketika investor kabur, karena merasa tidak dapat memanjakan mereka.
Tidak terlalu bersedih ketika rakyat di negerinya sendiri menderita akibat inflasinya meradang dan harga pangan meroket tajam.Tabungannya yang tidak terlalu banyak dibiarkan merana karena suku bunga yang diterimanya tiap bulan nyaris tidak ada nilainya, karena termakan inflasi.
Dengan perkataan lain, pemerintah lebih peduli dengan para pelaku casino capitalism. Mengurus keperluan mereka jauh tidak terlalu repot, karena tidak perlu diurus dengan jumlah menteri yang banyak. Memanjakan mereka cukup diurus oleh otoritas moneter dan fiskal yang kredibel. Jadi, kalau rupiah kita semaput dan IHSG pingsan, tidak perlu heran, karena risiko yang harus dibayar seperti itu kondisinya. Mata uangnya sendiri sebagai alat pembayaran yang sah dibiarkan terkapar dan rakyat yang tidak paham tentang pasar uang menjadi rugi besar.
Pertanyaannya adalah apakah para pengambil kebijakan ekonomi di republik ini akan terus mengikuti patron liberal dan lebih memanjakan para pelaku casino capitalism atau akan mengubah patron kebijakan ekonomi yang lebih memanjakan para wiruasaha nasional untuk aktif membangun sektor riil di tanah air sendiri di bidang pertanian, perikanan, perkebunan, dan industri pengolahan, di bidang energi serta industri pariwisata?
Fasilitas pemerintah itu semestinya lebih banyak diberikan untuk mengembangkan dan menguatkan wirausahawan nasional, bukan sebesar-besarnya untuk memanjakan investor asing. Peran asing diundang hanya sebagai pelengkap bukan yang utama. Kalau semua diserahkan kepada asing apa bedanya dengan kondisi 68 tahun yang lalu. Semoga bermanfaat dan menjadi penyadaran bagi para elite bangsa dalam melakukan reorientasi kebijakan ekonomi. ***
