Menaksir Terowongan Raksasa Jakarta

Loading

Oleh: Enderson Tambunan

Enderson Tambunan

Enderson Tambunan

GAGASAN membangun deep tunnel atau terowongan raksasa mengisi memori kita, beberapa hari lalu, saat banjir besar menerjang Kota Jakarta. Prasarana itu jelas berkaitan dengan upaya penanggulangan banjir di ibu kota negara, yang terjadi setiap tahun.

Sebelumnya, kita pun pernah mendengar rencana membangun tanggul raksasa di Pantai utara Jakarta, waduk besar di Ciawi (daerah hulu), serta normalisasi Sungai Ciliwung.

Bicara mengenai terowongan raksasa, tentu bicara mengenai sungai buatan, yang kedalaman, lebar, dan panjangnya tidak terlepas dari kemampuan keuangan negara untuk membiayai pembangunannya. Karena terkait dengan penanggulangan banjir, maka terowongan yang dibutuhkan pastinya yang mampu mengalirkan banyak air, bukan sekadar saluran atau drainase biasa, seperti yang dimiliki oleh Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang baru melewati 100 hari masa pemerintahannya setelah dilantik 16 Oktober 2012, sudah menawarkan pembangunan deep tunnel itu ke Kementerian PU. Kita pun yakin, Bang Jokowi dapat begitu “pede” “menjual” gagasan deep tunnel setelah menerima masukan dari para ahli di Pemprov DKI. Sebab rasanya, gagasan demikian pernah terlontar, tapi kemudian menghilang begitu saja.

Merujuk berita media massa, Jokowi, panggilan akrab Gubernur DKI Jakarta, mengatakan, kerugian akibat banjir kali ini (Januari 2013) diperkirakan Rp 20 triliun. Nah, daripada anggaran digunakan membayar kerugian akibat banjir, lebih baik dialokasikan untuk pembangunan terowongan multifungsi. Deep tunnel merupakan solusi banjir jangka panjang. Jadi, daripada terus-terusan mengeluarkan uang untuk membayar kerugian, lebih baik untuk membangun deep tunnel, katanya, Selasa pekan lalu.

Ia mengatakan, biaya yang diperlukan untuk membangun deep tunnel sekitar Rp 16 triliun, sedang kerugian akibat banjir Rp 20 triliun. Masih soal anggaran, Jokowi mengatakan, kalau dirasa berat, kita bisa ajak pihak swasta untuk ikut masuk ke proyek ini. Ia pun berharap usulan ini mendapat dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

Sebelumnya, Rabu (9/1/2013), Jokowi “bertandang” ke kantor Kementerian Pekerjaan Umum. Topik yang dibawa, ya, soal keberadaan deep tunnel. Gubernur DKI tak bertepuk sebelah tangan. Menteri PU Djoko Kirmanto sebelumnya pernah mengatakan, dia telah mengetahui rencana Jokowi untuk membangun gorong-gorong raksasa dan mendukungnya.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak mengatakan, Kementerian PU dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera membentuk tim untuk mengkaji pembangunan deep tunnel. “Kami akan membentuk tim gabungan yang akan membahas kelaikan pembangunan deep tunnel, baik secara utilitas maupun finansial,” katanya.

Mengkaji Manfaat

Tepat sekali. Gagasan itu perlu dikaji lebih mendalam, terutama yang berkaitan dengan manfaatnya dalam upaya mengatasi masalah utama yang dihadapi DKI Jakarta, seperti banjir. Kota-kota besar di dunia umumnya memiliki terowongan bawah tanah dengan beragam fungsi, antara lain, sebagai saluran air dan saluran untuk berbagai jenis kabel kepentingan umum, seperti listrik dan telepon. Kabarnya, tetangga kita, Kuala Lumpur, sudah punya deep tunnel sejak 2003.

Terkait dengan gagasan terowongan raksasa di Jakarta memang belum jelas benar spesifikasi dan sifat multifungsinya. Sejauh ini, data mengenai berapa lebar, panjang, dan kedalamannya masih “tersimpan” di laci para pemikir, sehingga sulit diperkirakan untuk apa saja nanti pengunaan deep tunnel dimaksud.

Dalam konteks penanggulangan banjir, pembangunan deep tunnel pasti disambut hangat. Apalagi prasarana itu dapat berfungsi sebagai jalan, saluran utiulitas perkotaan, dan lain-lain, yang sangat diperlukan oleh kota besar, seperti Jakarta. Melihat dari manfaatnya, masalah biaya mungkin tidak lagi jadi penghambat. Apalagi dalam pembangunannya dapat dilibatkan pihak swasta. Sebab, semua pihak, baik itu masyarakat, pemerintah maupun pengusaha, sangat berkepentingan dengan keberadaan Jakarta yang bebas banjir dan bebas macet.

Yang sungguh-sungguh diharapkan adalah pengkajian secara mendalam agar tersedia studi kelayakan tentang proyek terowongan raksasa yang multifunsgi. Terutama sebagai salah satu solusi dalam penanggulangan banjir, yang benar-benar dapat diandalkan. Teknologi yang dipakai, umpamanya, harus yang prima, dan benar-benar tahan gempa. Terowongan harus yang bisa dipakai untuk berbagai kepentingan agar efektivitasnya dapat tercapai.

Pada sisi lain, konsentrasi pikiran jangan hanya ke masalah pembangunan terowongan raksasa, tapi juga rencana-rencana besar lainnya, supaya Jakarta memiliki beberapa solusi mengatasi banjir dari tiga sumber utama, yakni air kiriman dari hulu, hujan lokal, dan air pasang laut (rob).

Penderitaan masyarakat Jakarta akibat banjir pekan lalu hendaknya terus memacu semangat mereka yang punya wewenang di lingkungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah DKI untuk melanjutkan pembicaraan dan pelaksanaan program-program besar itu. Apalagi, Pemprov DKI, lewat Jokowi, sudah menunjukkan komitmennya untuk menuntaskan masalah banjir. Kalau boleh, semua gagasan itu dapat dilaksanakan dan tidak tertinggal sebatas wacana pada saat bencana terjadi.

Untuk mengurangi beban anggaran, kita pun berharap Bang Jokowi dan stafnya dapat meningkatkan pendapatan daerah yang begitu diperlukan untuk membiayai pembangunan. Entah itu, meningkatkan perolehan dari sumber-sumber lama dan atau menciptakan sumber baru, asalkan, tidak membebani warga berpenghasilan rendah. Nah, sambil menunggu tersedianya rangkaian solusi untuk memecahkan masalah banjir, mari kita peduli pada lingkungan, dengan tidak membuang sampah ke kali. ***

CATEGORIES
TAGS