Menabur Janji
![]()
Oleh: Sabar Hutasoit

Sabar Hutasoit
SETELAH negeri ini usai menyelenggarakan pesta demokrasi yang disebut pemilihan legislatif (Pileg), kini kembali dimeriahkan pemilihan presiden yang akan diselenggarakan 9 Juli 2014. Semua warganegara sudah tahu kalau calon presiden kita hanya dua pasang yakni Jokowi dengan cawapresnya Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto dengan capres Hatta Rajasa.
Sudah pasti kedua pasangan ini sama-sama ngebet ingin menang dan menduduki kursi RI-1 untuk periode 2014-2019. Ngebet itu tidak salah dan pasti semua pihak yang sedang bertanding ingin jadi juara satu. Segala cara pasti ditempuh dengan tujuan memenangkan pertandingan.
Sudah tidak diragukan lagi, bahwa langkah pertama yang dilakukan kedua pasang calon pemimpin nomor satu di negeri berlandaskan Pancasila ini adalah menebar janji. Bukan sekedar janji loh..tapi janji-janji yang dikumandangkan mereka sangat manis bahkan teramat manis.
Tidak ada satu potong kata-pun yang keluar dari mulut para calon serta para tim sukses mereka yang tidak mengenakkan telinga, semuanya uenak didengar. Biasalah bahasa kampanye dikawinkan dengan bahasa iklan.
Segala macam janji sudah mulai bertaburan. Ya, meningkatkan pertumbuhan ekonomilah, mensejahterakan rakyatlah, membebaskan uang sekolahlah, menaikkan gaji pegawai negerilah, membenahi infrastrukturlah, mengutamakan pendidikanlah, memberantas korupsilah, menegakkan keadilanlah dan banyak lagi janji-janji yang sudah kita dengar.
Pertanyaan kita adalah, benarkah janji-janji yang manis itu akan terealisasi ? Kenapa muncul pertanyaan ini. Pasalnya adalah, setiap lima tahun sekali, janji-janji tersebut yang isinya sama kembali mengudara. Tidak pernah calon pemimpin mengakui kekurangannya tapi semuanya menyatakan bisa melakukan ini dan itu.
Tapi pada akhirnya (tentunya berdasarkan pengalaman), setelah mereka terpilih dan duduk di kursi RI-1 yang sangat empuk itu, janji-janji tadi jangankan dilakoni, diingat-pun tidak lagi. Mereka sudah asyik menikmati fasilitas sebagai kepala negara. Berkunjung kemana-mana dengan pengawalan yang super ketat.
Tidak hanya itu, janji yang diutarakan-pun dilanggar. Sebut saja misalnya tindak pidana korupsi. Justeru yang membuat slogan anti korupsi yang banyak melakukan korupsi. Demikian juga penegakan hukum. Mana ada hukum yang tegak. Mau bukti ? Putra seorang petinggi negeri ini menabrak manusia hingga meninggal dunia, bisa bebas.
Menurut buku hukum, semua orang siapa-pun dia, apapun jabatannya, sama di depan hukum. Itu kata buku. Tapi kata para pendekar hukum di Indonesia tidak seperti itu. Malah untuk memangggil petinggi-pun ke persidangan repotnya bukan kepalang. Maka menarik pernyataan seorang pengamat yang mengatakan berani tidak nanti presiden kita menawarkan diri ke persidangan untuk diperiksa dalam kasus apa saja. Jadi tidak perlu menunggu panggilan penegak hukum.
Nah itulah harapan rakyat berkaitan dengan janji-janji yang sudah bertebaran dimana-mana. Jadikanlah rakyat menjadi pihak yang diperhitungkan, jangan hanya dijadikan benda mati dihitung hanya untuk memenangkan calon untuk jadi penguasa. Rakyat Indonesia hingga sekarang masih berada pada tahap dihitung belum sampai pada tingkat diperhitungkan. ***
