JK : Petani Indonesia Bagai Ayam Mati di Lumbung Padi
![]()
Laporan : Redaksi

Jusuf Kalla
JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) merasa prihatin dan miris melihat kekayaan alam Indonesia semakin terabaikan. Bagi Yusuf Kalla hanya ada satu kata kunci prihatin, ungkapnya dengan gaya khas dalam sebuah diskusi bertajuk “Ketahanan Sektor Pertanian Menghadapi Gempuran Impor” di Jakarta, baru-baru ini.
Hadir dalam diskusi itu Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Zaenal Bachruddin, Ketua Pengusaha Pribumi H.D Sutisno, Komisaris Utama Sierad Produce yang juga pengusaha perunggasan Anton J. Supit serta tokoh negara kelahiran Makassar Jusuf Kalla (JK).
Menurut JK pertama yang harus dibenahi adalah perbaikan internal. Yang juga agak kurang dimengerti adalah animo swasta untuk mengembangkan bibit agak kurang. Dari 240 juta manusia ada sekitar 100 juta yang setiap hari butuh makan buah. “Ini khan peluang bisnis yang besar,” katanya. Contohnya produksi apel Malang yang semakin hari semakin menurun hasilnya. “Salah satu penyebabnya adalah harga pupuk yang kian mahal,” ungkapnya.
Jika ini dibiarkan, tambah JK, maka modal yang sudah dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan. Petani apel mengeluh sekarang hasil panen hanya sekitar dua sampai tiga ton saja. Padahal sebelumnya mencapai 11 sampai 12 ton per hektar. Sejak membanjirnya impor apel dari luar negeri, maka harga apel dalam negeri kian merosot.
Selain dibebani dengan harga obat-obatan hama yang melambung tinggi juga harga pupuk dari pabrik yang sudah tinggi kian menambah beban biaya produksi. Sekarang petani apel yang bertahan tinggal 30% dari sebelumnya. “Memang sebelumnya bertanam apel sangat menjanjikan. Sejak banjir impor maka petani mati pelan-pelan. Pemerintah harus mencari solusinya,” pinta JK.
Menurut Dirjen PPHP Zaenal Bachruddin instansinya sudah melakukan penyuluhan. Pemerintah telah melakukan kerjasama dengan perbankan misalnya dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bisa membantu para petani menyediakan modal membeli pupuk dan sebagainya. Asosiasi Pengusaha Pribumi H.D Sutisno menganggap bahwa KUR itu hanya dongeng. “Jangan bicara KUR, itu hanya membuat pusing petani. Kasihan. Mereka hanya dapat kredit kecil tetapi persyaratannya membuat pusing tujuh keliling,” katanya.
HD Sutisno memberi gambaran perjuangannya mendirikan pasar tradisional seluas lima hektar di Soekarno-Hatta. “Saya lakukan sendiri tanpa bantuan pemerintah, kini beromset Rp 3 miliar sehari semalam,” ungkapnya. Maka, yang harus dibenahi adalah mentalitas pejabat Indonesia.
Menurut pria berambut putih ini, tahu bungkeng asli Sumedang sekarang semua bahan bakunya hasil impor. Ini sangat menyedihkan. Marilah kita duduk bersama mencari jalan keluar permasalahan ini. Semua harus gotong royong selamatkan hasil pertanian khas negeri ini. Jangan sedikit-sedikit impor. Beras yang kita bisa produksi berlebihan pun harus impor. Meskipun kata Dirjen PPHP sebagai upaya “stock” barangkali kurang. Tetapi ini dibantah Jusuf Kalla dengan mengatakan lama kelamaan petani di negara yang kaya raya dengan isi perut bumi Indonesia diumpamakan seperti ayam mati di lumbung padi.
“Kembalikan kejayaan negara ini sebagai negeri yang makmur dengan misalnya menyelenggarakan pusat pembibitan buah dan sayuran. Ini adalah tugas kita semua tetapi harus motoriknya adalah pemerintah,” ungkap Anthon J. Supit. Usaha proteksi untuk hasil-hasil pertanian juga memetakan para penyuluh di masyarakat ini bisa dilakukan sebagai solusi dalam menyikapi kondisi petani menghadapi gempuran hasil impor pertanian. (rudi kosasih)
