Jangan Konsumsi Daging Ternak Terjangkit Anthrax

Loading

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

SEMARANG, (Tubas) – Masyarakat dan petani peternak hewan seperti sapi, kambing, dan babi diminta untuk mewaspadai penyakit anthrax yang menyerang hewan tersebut. Sebab, daging ternak yang mati dikarenakan virus Bacillus Anthacis tersebut bila dikonsumsi oleh manusia maka manusia akan dengan mudah tertular anthrax pula.

Hal tersebut sesuai dengan kejadian di Kabupaten Sragen pada pertengahan Mei 2011 yang lalu, sapi milik Siswanto yang mati akibat diduga kena anthrax yang secara fisik kelihatan suhu sapinya panas, dengan gejala klinis keluar leleran/ngiler dan berbusa dari mulut, kembung dan ambruk, yang kemudian disembelih dan dagingnya dikonsumsi sekitar 131 orang. Dari kejadian itu, diduga ada 13 orang yang makan dagingnya terkena anthrax kulit.

Beberapa waktu yang lalu Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo menugaskan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Ir. Whitono, MSi, untuk mengatasi enam kabupaten dan dua kota di Jawa Tengah yang endemis penyakit anthrax supaya tidak menyebar ke seluruh Jawa Tengah.

Ir. Whitono mengungkapkan, pihaknya bersama pemerintah daerah terus berusaha untuk melakukan penanganan panyakit anthrax. Yakni, koordinasi dengan instansi terkait, investigasi ke lokasi wabah dan pengambilan sample untuk memastikan diagnosis, pendistribusian desinfektan, obat hewan dan vaksin anthrax, memperketat pengawasan lalu lintas ternak maupun bahan asal hewan, pengawasan pemotongan ternak di rumah pemotongan hewan (RPH) dan tempat pemotongan hewan (TPH) hingga melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kewaspadaan penyakit anthrax.

Mengingat anthrax merupakan penyakit menular, Whitono berharap masyarakat mengenali gejalanya dan tidak mengkonsumsi daging yang diduga terkena anthrax. Gejala akut ditandai antara lain, hewan mati mendadak karena pendarahan otak, hewan berputar-putar dengan gigi gemeretak dan mati beberapa menit setelah keluar darah dari lubang kumlah (telinga, hidung, anus, kelamin).

Untuk mencegah penyakit anthrax, menurut Whitono, pada daerah bebas anthrax, tindakan pencegahan dilakukan dengan memperketat pengawasan pemasukan hewan ke daerah tersebut. Lakukan biosekuriti, jauhkan hewan sehat dari sumber penyakit, dan lakukan budidaya ternak yang baik (good farming practices). Pada daerah endemis atau enzootic, pencegahan dilakukan sesuai anjuran yang diikuti dengan monitoring ketat. Untuk hewan tersangka sakit, diberikan pengobatan dua minggu dan disusul dengan pemberian vaksin. (yon)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS