Industri Baja Nasional apa Kabar..?
![]()

JAKARTA, (tubasmedia.com)- Industri baja nasional apa khabar..? Dijen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto saat ini sedang mengantisipasi dampak penerapan pajak 15 persen.
Sebab jangan sampai terjadi kenaikan harga akibat penerapan 15 persen Bea Masuk pajak industri baja nasional tersebut, jika naik tentu akan berdampak pada anggaran proyek infrastruktur yang diharapkan oleh Kabinet Kerja sekarang ini bisa berjalan dengan baik.
Harjanto mengimbau agar industi baja nasional baik hulu mau pun hilir tidak menaikkan harga bersamaan disepakatinya kenaikan Bea Masuk baja menjadi 15 persen. Sebab jika kesempatan ini digunakan untuk menaikkan harga setinggi-tingginya akan berakibat biaya pembangunan semakin mahal.
Menurut Harjanto, dengan meningkatnya utilitas maka daya saing industri baja lama kelamaan akan meningkat termasuk di pasar Internasional.
Berkaitan dengan hal mendasar dari kebutuhan sektor manufaktur, bahan baku dan energi akan diarahklan ke seluruh stakeholder pemerintah agar bisa disesuaikan sehingga industri manufatur ini bisa berdaya saing.
Disisi lain, menurut Menperin Saleh Husin, kebutuhan baja domestik meningkat tajam dari 7,4 juta ton pada 2009 menjadi 12,7 ton pada 2014 dan akan meningkat terus seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Poduktivitas industri baja nasional, disebutkan Saleh Husin hingga saat ini masih dikelola oleh sebanyak 352 perusahaan dan yang terbesar ada di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Tenaga kerja yang diserap tidak kurang dari 200 ribu orang dengan kapasitas produksinya mencapai 14 juta ton per-tahun.
Sedangkan produsen baja swasta terbesar di Indonesia, PT. Gunung Garuda dan PT. Gunung Raja Paksi memiliki kapasitas sebesar 1,3 juta ton per-tahun. Produktivitas eksporr baja pada 2014 sebesar 2,23 miliar dolar AS atau naik 16,91 persen dibanding 2013 yakni sebesar 1,91 miliar dolar AS.
Sedangkan impor pada 2014 sebesar 12,58 dolar AS atau turun 0,19 persen dibanding 2013 sebesar 12,6 miliar dolar AS. (marto tobing)
