Fokus Dong
![]()
Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi
BEGITU celoteh sebagian dari masyarakat Indonesia ketika kesal melihat sebuah perencanaan pembangunan yang orientasinya dinilai berubah-ubah dan mereka lalu berteriak kencang “Fokus Dong…”. Teriakan ini rasanya tidak salah dan cukup beralasan.
Apalah artinya perencanaan dibuat dengan ambisius, apa daya tangan tak sampai untuk mewujudkan rencana itu menjadi sebuah kenyataan. Orang awam selalu berfikir sangat sederhana dalam soal perencanaan ini.
Misalnya untuk mewujudkan progamkan orangtua yang ingin membiayai sekolah anaknya sejak TK sampai Perguruan Tinggi, maka dia rajin menabung. Begitu pula ketika mau membangun rumah, biasanya dimulai dengan melakukan hal yang sama. Pada umumnya dihindari berhutang, karena dengan berhutang, orang awam takut kalau tak sanggup mengembalikannya yang akhirnya menjadi beban hidupnya.
Negeri ini punya perencanaan yang hebat. Maklum siapapun yang berkesempatan memimpin negeri ini, dia ingin menghasilkan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di berbagai kehidupan nyata. Tapi realitasnya, belum sepenuhnya dapat dinikmati.
Pertumbuhan ekonomi mulai membaik, tapi masih hanya menetes ke segelintir kelompok masyarakat karena ekonomi yang tumbuh adalah ekonomi finansial, bukan ekonomi riil. Bukan sektor produktif yang tumbuh mengesankan, tapi sektor jasa yang berkembang dan tumbuh menguat.
Kita memang tak memiliki lagi GBHN, tapi kan memiliki RPJP. GBHN dan RPJP sebetulnya sama saja, yaitu bentuk sistem perencanaan jangka panjang negara. Bedanya, di GBHN yang dijalankan melalui tahapan Repelita, kita mengenal adanya Fokus yang menjadi sasaran dan target.
Misalnya pada repelita 1, fokusnya membangun sektor pertanian yang tangguh dan sektor lain menjadi pendukungnya. Di RPJP tidak ada fokus yang semacam itu, yang kita baca di RPJP adalah semua sektor akan dibangun, tapi stresing-nya sebagai fokus, sulit ditemukenali dalam dokumennya.
Teriakan “Fokus Dong” rasanya patut didengar agar perencanaan yang dibuat negara ini tidak ngobro-obro. Apalagi duitnya cekak untuk melaksanakan rencana pembangunan seperti yang diamanatkan dalam RPJP, makanya masyarakat berteriak kencang, lagi-lagi teriakannya adalah “Fokus Dong”.
Di Republik ini saat sekarang, masyarakat disuguhi menu perencanaan dengan berbagai istilah. Ada yang menunya bernama RPJP, RPJMN, ada MP3EI, Kawasan Ekonomi Khusus, ada menu lain yang bernama KAPET, Kawasan Berikat, Kawasan Perdagangan Bebas, ada lagi kawasan yang bersifat sektoral seperti Kawasan Industri, Kawasan Agropolitan dan lain-lain.
Semua itu dituangkan dalam dokumen perencanaan sebelum pembangunannya dilaksanakan. Yang pasti semuanya itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana pembangunan sekarang ini tidak mudah didapatkan baik melalui APBN/APBD, apalagi sebagian besar APBN/APBD sudah habis dipakai untuk membiayai belanja rutin (belanja pegawai, belanja barang , subsidi, bayar hutang, transfer ke daerah) sehingga dana untuk mendukung pembangunan tidak mendapatkan porsi yang besar.
Berhutang juga tidak mudah lagi mencari sumber-sumbernya terutama untuk mendapatkan dana berbunga rendah, apalagi yang bersifat hibah. Sejak awal reformasi hingga sekarang ini, masyarakat terkesan hanya disuguhi berbagai macam bentuk menu perencanaan. Padahal yang ditunggu adalah pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilnya.
Tapi karena tak pernah kunjung datang apa yang ditunggu-tunggu, maka yang terdengar adalah teriakan sumbang dan memekakan telinga, antara lain yang sering kita dengar adalah jangan doang, yang penting realitasnya donk.
Sampai dengan sangat beraninya sebagian dari masyarakat menuduh pemerintah berbohong. Ada lagi yang nasehatnya bijak, yaitu “Fokus Dong”. Bijak karena tidak mau terjebak dalam efoporia emosional dan apalagi destruktif. Karena itu nasehatnya adalah lebih baik “Fokus Donk”.
Lagi-lagi cukup beralasan pertimbangannya, antara lain: kepemimpinan nasional paling lama hanya 10 tahun, sehingga selama jangka waktu tersebut lebih baik berbuat banyak melaksanakan pembangunan yang secara realistis dapat dilaksanakan dari pada otak-atik model perencanaan.
Berikutnya adalah sumber daya pembangunan sangat terbatas, baik berupa dana dan sumber daya yang lain. Realokasi sumber daya menjadi lebih penting untuk mengerjakan hal-hal yang prioritas dan fokus. Hal yang sangat prioritas dan fokus menurut masyarakat awam adalah membangun infrastruktur ekonomi, infrasruktur pendidikan dan infrstruktur kesehatan.
Ini saja dulu yang dikerjakan dan diselesaikan. Dengan badan yang sehat dan berilmu, maka bangsa ini pasti akan bisa membangun ekonominya dengan baik. Karena itu nasehat bijaknya adalah “Fokus Dong”.***
