Berkontribusi untuk Kebaikan Dunia
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi
SEUSAI melawat ke Swedia dan Amerika Serikat akhir Mei 2013, Presiden SBY memberikan pernyataan bahwa Indonesia harus berkontribusi untuk kebaikan dunia (running text Metro TV, 2 Juni 2013). Pernyataan itu biasa saja dan selama ini sudah banyak dilakukan oleh para pendahulunya, karena sebagai bangsa secara konstitusi sudah diamanatkan untuk ikut menjaga perdamaian abadi di dunia.
Hal yang bisa membanggakan justru bilamana Indonesia sendiri juga bisa ikut berkontribusi membenahi dirinya sendiri untuk membangun peradabannya di tengah gejolak internal yang dirasakan oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk ancaman keutuhan NKRI. Orang bijak selalu bertutur kata dengan penuh kearifan bahwa sebelum kita bisa berbuat banyak membantu rumah tangga orang lain, alangkah indahnya dan lebih utama kalau berhasil duluan membenahi rumah tangga sendiri.
Berkontribusi untuk kebaikan dunia adalah sebuah keniscayaan dan memang sepantasnya harus dapat kita lakukan. Jangan hanya karena sanjungan dan pujian bahwa Indonesia punya masa depan gemilang, lantas kita sebagai bangsa diimbau untuk berbuat baik kepada dunia, sebagai bentuk take and give-nya.
Alangkah indah dan mulia jika ajakan kebaikan itu kita tempatkan pada posisi memberikan kontribusi kebaikan kepada daerah yang masih tertinggal, nyaris tidak pernah tersentuh pembangunan secara masif di negeri ini. Apalah artinya pertumbuhan ekonomi kalau ternyata hasilnya hanya dinikmati Pulau Jawa (50% lebih). Sementara pembangunan di Papua, Maluku dan di wilayah lain hanya kebagian kue yang terlalu kecil.
Apalah arti kebaikan untuk dunia kalau KKN dibiarkan hidup subur di rumah sendiri, padahal kebaikan itu seharusnya pantas diberikan kepada kelompok masyarakat yang masih tergolong miskin, papa, dan menganggur? Kebaikan itu tidak harus dengan membiarkan asing mengusai aset bangsa di bidang pengelolaan sumber daya ekonomi. Padahal, seharusnya diutamakan untuk diolah dan dikembangkan sendiri untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Makin Sejahtera
Wahai para pemimpin dan para elite politik di negeri ini, ciptakanlah kebaikan demi kebaikan untuk kepentingan rakyat agar kehidupan mereka makin sejahtera dan makmur.Wahai para pemimpin dan para elite politik, berlomba-lombalah berbuat kebaikan untuk kemajuan bangsa dan negara sebelum melakukan kebaikan bagi bangsa lain di dunia. Gelarlah karpet merah bagi rakyat yang memiliki bakat dan talenta di berbagai bidang agar hidup mereka bertambah baik dan maju. Ciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya bakat mereka agar apa yang menjadi cita-citanya dapat terwujud menjadi sebuah kenyataan.
Jangan keblinger wahai para pemimpinku dan jangan terbalik-balik cara berpikirmu, sepertinya bangsa dan negara ini lebih baik “dijajah” kembali atau rela “digadaikan” kepada bangsa lain di dunia. Kita sudah cukup baik kepada dunia karena sejak reformasi, negara ini oleh para pemimpin formalnya di pemerintahan diarahkan untuk menjadi good boy.
Menjadi loyalis IMF, Bank Dunia maupun WTO untuk bekerja menurut irama dan partitur mereka. Sudah diajak hidup dalam “pergaulan bebas”, padahal sejatinya kebebasan yang kita raih, karena berdemokrasi tujuannya bukan hanya menyediakan karpet merah kepada pihak asing mancing, panen sumber daya alam dan membawanya keluar untuk kepentingan mereka. Demokrasi yang kita bangun adalah demi kebaikan rakyat Indonesia agar kemampuan intelektualnya berkembang,
Demokrasi yang kita bangun adalah untuk menyejahterakan rakyat agar hidupnya tidak bergantung pada orang lain dan berhasil membangun kemandirian dan percaya diri. Kebaikan ini pada akhirnya akan makin memberikan keyakinan bahwa bangga menjadi bangsa Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Rasa ikut memiliki terhadap Indonesia makin menggelora dan makin bertanggung jawab untuk ikut merawat dan memajukan Indonesia secara gotong royong demi peradaban Indonesia yang kita cita-citakan bersama.
Ajakan Pak SBY agar Indonesia ikut berkontribusi untuk kebaikan dunia adalah wajar, tapi lebih pantas kalau ajakan kebaikan itu kita sampaikan juga pada diri sendiri dan mengajak berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk kejayaan Indonesia dan untuk kemaslahatan bangsa Indonesia yang hidup dari NAD sampai Papua. ***
