BBM

Loading

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

BLACKBERRY Messenger, bukan, tapi Bahan Bakar Minyak. Telah menyita waktu kita semua pemberitaannya, topikya adalah naik-turun, turun-naik, naik-turun dan akhirnya tidak naik dan tidak juga turun.

Tokek-naik, tokek–turun, begitu tidak bunyi lagi kita jadi geli sendiri, karena pas berhenti hitungannya pas seharusnya turun. Dari pada berspikulasi sendirian. lebih baik berucap emangnya gue pikirin, mau naik mau turun bukan urusan gue, kenapa kok jadi tersandera oleh bunyi tokek. Sontoloyo kamu kek tokek, he he he.

Begitulah nasib BBM di negeri ini. Ibarat bola ditendang kesana kemari tapi nasibnya jelek, tidak menghasikan goal. Padahal yang menendang, yang mengolah dan menggiring bola adalah pemain-pemain yang hebat, cerdas, terampil, kompeten tapi hasil akhirnya nihil. Nasib barangkali kalau tidak mau disebut bingung, galau ketika sudah berada ditengah lapangan.

Tapi kalau klubnya seperti Manchester United atau Barcelona nggak mungkin akan terjadi seperti itu. Dalam benak para pemainnya hanya ada satu kata yaitu menang. Dan untuk bisa menang, maka jawabannya hanya pendek yaitu kompak, kerjasama, saling bahu membahu, kemudian mencetak goal dan habis itu Menang.

Tapi kalau analogi itu kita tarik dalam kaitan permainan kebijakan publik tentang BBM suasana kebatinannya tidak seperti itu, Begitu ditengah lapangan suasananya hiruk pikuk dan riuh rendah, gemuruh di semua sudut. Gemuruh di senayan, riuh rendah di debat publik dari diwarung kopi sampai dg di media TV dan tempat-tempat lain yang cukup bergengsi membicarakan soal BBM.

Celakanya semua merasa bisa, merasa sangat faham dan mengerti tentang kebijakan BBM dan pada saat yang sama sambil berusaha meyakinkan kepada yang lain berani mengatakan anda salah, anda adalah antek kapitalisme global dan anda tidak lagi memiliki jiwa nasinalisme.

Padahal semua yang dibicarakan adalah sederhana saja, yaitu soal naik atau tidak naik harga BBM. Tapi semuanya heboh dan heboh. Rakyat sebagai penonton menjadi bengong dan bingung sekaligus gundah. Sambil bertanya tanya apa sih yang diomongin itu, ada istilah ICP, ada istilah harga keekonomian, nggak ngerti aku, kalau mau naik, ya naik saja kok pakai ribut-ribut sampai ngabisin kecap tauco.

Dan kalau mau turun, ya turun saja, gitu aja kok repot. Udah nggak usah dipikirin kita nonton liga champions saja lebih menarik dan mengasikkan pasti ada yang menang dan pasti ada yang kalah, jelas hasilnya bisa 1-0 atau 2-0 dan seterusnya. Itulah sebuah ilustrasi betapa ribetnya proses pengambilan kebijakan publik di negeri ini, khususnya dalam hal yang terkait dengan kebijakan BBM.

Prosesnya panjang dan melelahkan tapi hasilnya tidak optimal. Bumbu politik, bumbu ekonomi, bumbu arogansi, bumbu hukum, bumbu kepentingan diaduk jadi satu, tapi adonan yang keluar tak berujud, tak menghasilkan rasa apa-apa dan mengeras begitu saja sebelum dapat dihidangkan menjadi hidangan makanan yang enak dan memuaskan.

Yang terjadi hari ini adalah ibarat seseorang disuruh naik ke atap rumah tapi seluruh badannya diikat, mana mungkin bisa naik, mati berdiri bisa jadi karena seluruh badannya telah kejang semua.

Tapi itulah realitas kehidupan dalam cara kita berbangsa dan bernegara. Mudah-mudahan hal yang semacam ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Kita harus perbaiki dan sempurnakan cara kita bekerja, cara menangani dan menyelesaikan problema hidup dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Tidak boleh bermain api dalam membuat kebijakan publik yang kalau salah mempersiapkannya bisa berdampak buruk bagi kehidupan kita semua. Kepintaran dan kecerdasan yang kita miliki harus dapat kita dedikasikan untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat. Apalagi kalau kepintaran dan kecerdasan tersebut dimiliki oleh sejumlah elite yang sekarang mendapat kepercayaan menjadi pejabat publik, maka asetnya tersebut harus dedikasikan dengan kejujuran dan ketulusan untuk membuat kebijakan publik yang berkualitas dan hasilnya bermanfaat bagi rakyat.

Kebijakan publik tidak bisa diformat dengan semangat untuk menyandera. Kebijakan publik bukan soal menang dan kalah. Kebijakan publik adalah adalah kebijakan miliknya publik dan harus bisa dinikmati oleh publik pada umumnya, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang atau sekelompok orang.

Kebijakan publik harus bersifat netral dan dia adalah ibarat oksigen yang berguna bagi energi kehidupan, bukan racun kehidupan tapi harus menjadi madu kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri.***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS