Asbun
![]()
Oleh: Edi Siswoyo

Ilustrasi
PARLEMEN, asal katanya parle, tempat orang berbicara. Orang yang suka nyinyir lebih cocok jadi anggota pralemen dibanding orang yang pendiam. Anggota parlemen harus buka mulut karena dibayar untuk berbicara tentang segala perkara yang berkaitan dengan perikehidupan rakyat. Anggota parlemen musti banyak bicara yang bermutu jangan Asbun alias asal bunyi.
Selama ini stempel dari masyarakat masih cukup kuat melekat pada anggota parlemen di Indonesia (DPR) yang dikenal dengan istilah 7 D (Datang, Duduk, Dengar, Diam, Duit dan Dengkur (tidur). Bahkan ada diantara mereka yang terlihat asyik membuka video porno, ber-facebook atau ber-BBM (BlackBerry Mesenger) saat sidang yang membahas masalah rakyat.
Anggota DPR yang banyak bicara juga tidak sedikit. Satu diantaranya, Fachri Hamzah, anggota DPR Komisi III dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dalam rapat konsultasi antara pimpinan DPR dengan Kapolri, Kejagung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung DPR, belum lama ini, Fachri Hamzah dengan lantang meminta KPK dibubarkan saja.
Usulan Fachri Hamzah itu sah-sah saja dalam negara demokrasi. Gagasan itu harus kita hormati dan hargai. Lontaran pendapat itu sebagai ungkapan apa yang selama ini bergemuruh di bawah horison politik di gedung DPR. Ucapan yang meluncur dari mulut anggota DPR itu tidak terlepas dari penyelesaian sejumlah kasus dugaan tindak pidanan korupsi yang selama ini ditangani KPK.
Ucapan Fachri Hamzah yang disampaikan dengan retorika yang lumayan baik itu hanya letupan Asbun alias asal bunyi karena tidak didukung argumentasi yang konprehensif. Tidak bisa dipungkiri KPK sebagai buah reformasi telah banyak mengirim koruptor, termasuk sejumlah anggota DPR masuk ke dalam penjara.
Letupan Asbun anggota DPR Komisi III itu tidak jauh dari kasus pemanggilan pimpinan Badan Anggaran (Banggar) DPR oleh KPK sebagai saksi dugaan korupsi dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) Transmigrasi, Kemenakertrans.
Anggota DPR jangan malas bercermin. Sebelum berbicara tidak ada salahnya mampir dulu di depan cermin besar, siapa tahu ada yang belum pas. Lihat dari bawah ke atas, dari kiri ke kanan. Nah, kalau ditemukan ada yang kotor ya dibersihkan, ada yang mlencang-mlecong–tidak beres—ya dibenahi. Jangan karena DPR buruk muka cermin dibelah. Rugilah kita semua !***
