SNI Motor Diesel Ditinjau Ulang

Loading

Laporan: Redaksi

ilustrasi

SUASANA – Tampak dalam gambar suasana seminar sehari yang dipandu moderator Teddy C Sianturi –tubasmedia.com/sabar hutasoit

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian sebaiknya merevisi kembali standar-standar yang ada hubungannya dengan bahan bakar diesel. Salah satunya, SNI motor diesel yang selama ini menggunakan bahan bakar solar biasa, harus ditinjau ulang sebagai persiapan pengujian prototype dengan bahan bakar B-10 dan B-20.

Hal itu dikatakan Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP), Teddy C Sianturi usai seminar bertema; “Sosialisasi Kebijakan Penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) Pada Sektor Industri Motor Penggerak/Diesel Engine di Jakarta, Kamis.

Uji coba penggunaan BBN katanya sudah akan dilakukan awal 2014 pada mesin diesel di bawah 30 HP yang biasa digunakan kalangan nelayan, pertanian dan irigasi.

Sementara itu, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Teddy C Sianturi mengatakan sumber energi utama di Indonesia hingga saat ini masih berasal dari energi fosil yaitu minyak bumi, batubara dan gas alam yang ketersediaannya sudah semakin menipis.

Seminar dua sesi yang menampilkan sejumlah pakar sebagai nara sumber dimoderatori Fauzi Aziz dan Teddy Sianturi.

Budi menambahkan, ketersediaan sumber energi baru terbarukan seperti biomassa, tenaga air skala kecil, tenaga surya dan tenaga angin, masih dalam presentasi yang kecil.

Indonesia sendiri menurutnya memiliki banyak potensi energi terbarukan yang sampai saat ini belum dapat dikembangkan secara optimal. Potensi panas bumi Indonesia diperkitakan mencapai 40% dari potensi pasar bumi dunia. Potensi energi terbarukan lainnya yang cukup besar adalah tenaga air, bioenergi dan energi surya.

Di bagian lain sambutannya dikatakan, energi telah menjadi kebutuhan dasar dalam pembangunan industry dimana sektor industri merupakan pengguna energi terbesar yaitu 49,4% dari konsumsi energi secara nasional.

Dengan target pertumbuhan industri yang berkontribusi terhaap PDB nasional sebesar 30% pada 2025, tentunya kebutuhan energi tersebut akan terus bertambah. “Oleh karena itu, pemenuhan energi untuk mencapai target pertumbuhan industri menjadi sangat penting,” ujarnya.

Potensi bioenergi sendiri menurut Budi diperkirakan mencapai 49 GW sedangkan pemanfaaatannya diperkirakan hanya mencapai satu persen. Mengingat kondisi tersebut, pemerintah saat ini telah menetapkan target pemanfaatan energi baru terbatukan.

Upaya-upaya pengembangan energi batu dan terbarukan sealain didorong oleh ketersediaan cadangan energi fosil khususnya minyak bumi, juga meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan terciptanya lingkungan yang bersih.

Menurut Budi, pemerintah mengalokasikan Rp 188,4 triliun untuk investasi modal sementara anggaran unuk subsidi energi Rp 274,7 triliun sementara Rp 193,8 triliun untuk subsidi BBM dan Rp 80,9 trliun untuk subsidi listrik.

Lemahnya nilai tukar ripiah terhadap dolarAS saat ini kata Budi juga semakin memperburuk keadaan ditambah lagi.murahnya bahan bakar di Indonesia memberikan kontribusi terhadap peningkatan jumlah orang yang membeli kendaraan pribadi. (sabar)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS