Pekan ini Investor Pasar Obligasi Masih Wait and See

Loading

saham

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Head of Research NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memaparkan, tidak jauh berbeda dengan pekan sebelumnya di mana kondisi pasar obligasi yang terlihat masih kurang kondusif seiring dengan masih adanya aksi jual asing membuat laju harga-harga obligasi kian tertekan dan masih dalam tren elemahannya.

“Seiring dengan pasar saham dimana pelaku pasar masih melakukan aksi jual di minggu kemarin. Kembali maraknya sejumlah sentimen negatif di pekan kemarin membuat laju pasar obligasi cenderung melemah,” kata Reza, Senin (4/5/15).

Meski laju Rupiah mampu berbalik positif namun, imbas melemahnya laju pasar obligasi global seiring penguatan US$ jelang pertemuan The Fed membuat pasar obligasi dalam negeri ikut melemah. Terlihat pergerakan harga obligasi, khususnya harga obligasi Pemerintah yang masih bergerak negatif yang terefleksi dari kembali naiknya yield yang merata pada seluruh tenor.

Kenaikan yield rata-rata yang terbesar diraih oleh obligasi tenor panjang (8-30 tahun). Kelompok tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan rata-data yield 14,70 bps; tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan yield sekitar 20,04 bps; dan tenor panjang (8-30 tahun) turut mengalami kenaikan yield hingga 21,01 bps.

Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0069 yang memiliki jatuh tempo ±4 tahun melanjutkan pelemahan harganya hingga 64,83 bps. Sementara dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±9 tahun turun harganya hingga 139,34 bps.

Di pekan kemarin, pemerintah Indonesia telah melaksanakan Lelang Surat Utang Negara (SUN) untuk seri sebagai berikut:

a. Seri SPN12160204 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada tanggal 4 Februari 2016;

b. Seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada tanggal 15 April 2019;

c. Seri FR0071 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 9,000% dan jatuh tempo pada tanggal 15 Maret 2029.

d. Seri FR0067 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 8,750%) dan jatuh tempo pada tanggal 15 Februari 2044.

“Masih maraknya aksi jual dan sentimen negatif di pasar obligasi membuat minimnya permintaan lelang surat utang negara (SUN) di pekan kemarin,” tutur Reza.

Dalam lelang kali ini, total permintaan yang masuk mencapai Rp 7,91 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang SUN periode sebelumnya, Selasa (14/4) yang mencapai Rp 10,01 triliun. Pada lelang kali ini, lelang diserap Rp 4,85 triliun atau di bawah target indikatif yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp 10 triliun.

Pemerintah memenangkan semua seri dari empat seri yang ditawarkan. Diantaranya, seri SPN12160204 (reopening) dengan permintaan yang masuk dari investor Rp 1,67 triliun. Yield terendah yang masuk sebesar 5,99% dan yield tertinggi 7%. Seri ini diserap Rp 1,45 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 6,18% dan tingkat imbalan diskonto.

Kemudian, seri FR0069 (reopening) mengalami permintaan Rp 1,78 triliun dengan yield terendah 7,61% dan yield tertinggi yang masuk 7,87%. Seri ini kemudian diserap Rp 650 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 7,63% dan tingkat imbalan 7,88%. Seri FR0071 mengalami permintaan Rp 1,55 triliun dengan yield terendah 7,91% dan yield tertinggi yang masuk 8,19%. Seri bertenor satu tahun ini diserap Rp 1,55 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 7,96% dan tingkat imbalan 9%.

Sementara itu, seri FR0067 mengalami permintaan Rp 1,37 triliun dengan yield terendah 8,24% dan yield tertinggi 8,45%. Permintaan untuk seri ini diserap oleh pemerintah sebesar Rp1,2 triliun.

“Menurunnya angka permintaan lelang SUN memberikan gambaran bahwa pelaku pasar masih belum meningkatkan aktivitas transaksinya,” imbuh Reza.

Secara tren memang, laju pasar obligasi masih dimungkinkan kembali mengalami pelemahan jika sentimen yang ada kurang memberikan imbas positif. Akan tetapi, seperti halnya di pasar saham, diharapkan tekanan jual pada pasar obligasi dapat diminimalisir untuk memberikan kesempatan bagi harga obligasi mampu bergerak naik.

“Di pekan ini, kami masih sama lebih cenderung wait and see sambil mencermati jika ada peluang-peluang rebound bagi beberapa obligasi. Kemungkinan laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang ±20 hingga 45 bps. Untuk itu, tetap cermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada,” ujar Reza. (angga)

CATEGORIES
TAGS