PDIP ; KPK Hanya Berani Nangkap Setingkat Dirjen, Tangkap Menteri Nusron tak Berani

Loading

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kader PDIP, Mohamad Guntur Romli heran Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) hanya menangkap pejabat sekelas Direktur Jenderal (Dirjen).

“OTT Rp106 miliar tersangkanya cuma level Dirjen, sementara menteri terkait malah tidak diketahui rimbanya,” kata Gun Romli dikutip dari unggahannya di X, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, alih-alih jadi prestasi, OTT dengan nilai yang fantastis malah jadi aib. Mengingat tersangkanya hanya sekelas dirjen. “Bukan prestasi, ini aib institusional. KPK bangga-banggakan Rp106,3 miliar sebagai rekor sitaan terbesar sepanjang sejarah,” ucapnya.

Dia menilai, ketika uang OTT besar, maka mestinya kasus tersebut juga besar.

“Pertanyaannya adalah ukuran keberhasilan, padahal semakin besar uang yang disita, yang dirampas, semakin besar kalau kasus ini bukan permainan kelas teri,” ujarnya.

“Dan semakin mencurigakan kalau ujungnya cuma berhenti di level dirjen,” sambung Romli.

Publik tak Bodoh

Meski begitu, dia yakin publik tak bodoh. Mengingat tersangka yang ditangkap merupakan orang kepercayaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

“Publik tidak bodoh, uang yang ditemukan di rumah Arif Sugiyanto yang disebut-sebut sendiri oleh KPK sebagai orang kepercayaan Menteri Nusron, itu bukan kebetulan, itu petunjuk terang benderang,” ujarnya.

Di sisi lain, Romli heran mengapa Nusron Wahid tidak ada dalam daftar tersangka.

“Ke mana aliran dana sebenarnya? Tapi anehnya, nama menteri hanya muncul di berita, sebagai terkait tanpa status jelas, tanpa pemeriksaan yang transparan ke publik,” imbuhnya.

Padahal menurutnya, KPK sebagai aparat penegak hukum hanya perlu mengikuti uangnya.

“Kalau KPK harusnya logika penyidikan itu sederhana, ikuti uangnya, bukan berhenti di kaki tangan. Follow the money. Bukan follow the paling gampang diciduk,” ucapnya.

KPK Berani Tangkap Nusron ?

Romli mengatakan, lokasi penyimpanan uang dengan nilai fantastis sebenarnya sudah menjadi petunjuk untuk KPK.

“Fakta bahwa uang sebesar itu diparkir di rumah orang kepercayaan, bukan di kantor kementerian, semestinya jadi alasan kuat untuk menyeret pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan lebih tinggi, bukan alasan, karena belum cukup bukti,” kata Romli.

Dia menyayangkan OTT KPK dengan angka fantastis, tapi tidak bisa membongkar seluruh tersangka.

“Jangan sampai OTT sebesar ini hanya jadi tontonan angka fantastis di media, tapi realitasnya jadi tameng untuk menyelamatkan yang di atas dan menangkap cecunguk,” ungkapnya.

“Kalau KPK benar-benar anti rasuah, maka buktikan keberanian menyentuh menteri bukan cuma memamerkan tumpukan uang di depan kamera,” pungkasnya. (sabar)

 

 

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS