Merdeka

Loading

Oleh: Edi Siswojo

ilustrasi

ilustrasi

TERIAKAN “Merdeka” menggema kembali di langit Indonesia. Pekan lalu, 17 Agustus 2013, bangsa Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan ke-68. Bendera Merah Putih berkibar di mana-mana mengiringi gema “Merdeka” dari pidato dan sambutan pejabat negara. Ungkapan “Merdeka” yang muncul dari segala penjuru arah memenuhi cakarawal nusantara. Sudahkan kemerdekaan mempunyai arti penuh bagi masyarakat Indonesia?

Entahlah, yang pasti arti kata “Merdeka” bagi Presiden Soekarno yang berteriak “Merdeka” pada rapat umum di Lapangan Ikada 15 September 1945, berbeda dengan ungkapan “Merdeka” dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di depan Istana Negara pada 17 Agustus 2013. Tidak hanya presiden, warga masyarakat Indonesia juga merasakan perbedaan arti kata “Merdeka” yang yang diteriakkannya. Tampaknya, hanya akal sehat kita yang bisa menjelaskan pebedaan itu.

Saya tidak tahu persis apa arti kata “Merdeka” yang dirasakan Presiden SBY. Saya hanya tahu tidak boleh menyalahkan kalau masih ada–sebagian–rakyat Indonesia yang belum bisa merasakan merdeka secara penuh. Soalnya, banyak fakta yang menunjukkan semakin menipisnya makna kemerdekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah merdeka selama 68 tahun.

Lihat saja, korupsi masih merejalela di mana-mana, kekayaan alam dikeduk “habis” untuk mengisi perut pabrik-pabrik perusahaan nasional maupun perusahaan multi nasional. Industrilisasi telah menciptakan pabrik dan buruh dengan penghasilan pas-pasan dan kapitalis atau cukong yang memperoleh keuntungan melimpah. Kapitalisme yang terus menggelembung membutuhkan bahan mentah–mengeduk kekayaan alam–dan pasar untuk menjual barang hasil industrinya.

Di alam kemerdekaan semakin banyak warga masyarakat negeri republik ini yang suka memamerkan gelar kebangsawanan–juga gelar lainnya–yang dicantumkan di depan atau di belakang namanya. Imperialisme, kapitalisme, individualisme dan feodalisme semakin tumbuh subur di Negara Pancasila yang sudah merdeka.

Hanya akal sehat yang menolak kembalinya imperialisme, kapitalisme dan feodalisme secara terang-terangan atau samar-samar, secara utuh atau sepotong-sepotong. Tidak berlebihan Indonesia disebut belum merdeka secara penuh jika politik dan ekonomi Negara Pancasila masih bergantung, jika imperialisme dan feodalisme masih merasuk ke dalam tubuh masyarakat masyarakat Indonesia! ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS