Ketahanan Industri Nasional Perlu Ditingkatkan
![]()
Laporan: Redaksi

Direktur Ketahanan Industri, Ditjen Kerjasama Industri Internasional (KII), Kementerian Perindustrian Drs Dharma Budi MBA
JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Direktur Ketahanan Industri, Ditjen Kerjasama Industri Internasional (KII), Kementerian Perindustrian Drs Dharma Budi MBA mengatakan kondisi industri secara nasional berada dalam posisi memprihatinkan. Daya tahannya sangat rapuh, kecuali industri berbasis sawit dan karet.
‘’Penyebabnya, selain banyaknya pungutan liar di dalam negeri, juga masih tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor,’’ tegas Dharma dalam obrolan dengan tubasmedia.com di ruang kerjanya, kemarin.
Menurutnya, kondisi yang sangat memprihatinkan ini harus segera ditangani semua pihak yang berkepentingan. Kebijakan lintas sektoral harus sinergi, baik antar sektor di pemerintahan maupun pihak swasta.
‘’Jangan saling menyalahkan, bahkan harus saling berangkulan mecari terobosan membuat ketahanan industri nasional semakin kuat,’’ tegasnya.
Dharma mengakui, pemerintah harus berani dengan tegas menghapuskan pungutan-pungutan liar yang menimbulkan hight cost economi bagi para pekaku industri. Dia menyebut contoh, sebuah industri di Tangerang yang membutuhkan bahan baku pasir dari Surabaya, harus menghentikan pembelian bahan baku itu dari Surabaya lalu mengalihkan pembelian dari Hong Kong dengan alasan, biaya pengiriman dari Hong Kong ke Tangerang menjadi lebih murah dibanding dari Surabaya.
Pasalnya? Karena selama perjalanan dari Surabaya ke Tangerang, pungutannya cukup besar sementara dari Hong Kong hanya satu kali bayar yakni bea masuk. ‘’Dan jika dibandingkan, biayanya lebih murah beli dari Hong Kong,’’ katanya.
Apalagi kata Dharma, dalam menyongsong pasar bebas ASEAN 2015, jika keberadaan industri nasional tidak segera dibenahi, dikhawatirkan industri kita akan terbanting oleh produk-produk impor.
Dikatakan bahwa sejumlah pelaku industri nasional sering mendatangi pihaknya untuk menyampaikan keluhan tentang sulitnya meningkatkan ketahanan industri dan sekaligus menyatakan keraguannya dalam menghadapi serbuan produk-produk asing yang harganya jauh lebih murah. (sabar)
