Jaipongan Layak Diajukan ke UNESCO

Loading

Laporan : Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

BANDUNG, (Tubas) – Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jabar, Dra. Ike Dewi Sartika menilai seni tari jaipongan dan pencak silat layak diajukan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) untuk dijadikan warisan budaya tak benda.

Namun sebelum diajukan ke UNESCO, kata Ike, pihaknya akan berdiskusi dan meminta masukan dari seniman budayawan dan penggiat seni lainnya. “Kami tidak mau menentukan sendiri, tapi harus ada koordinasi dengan berbagai pihak,” ujarnya di ruang kerjanya, Kamis (10/3).

Ia mengatakan, kedua seni tersebut dianggap layak karena sangat digemari dan masih dimainkan oleh seluruh masyarakat Jabar, bahkan nasional dan internasional. Begitu pun dengan penyebarannya, kesenian tersebut tidak hanya berkembang di Jabar, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional.

“Inilah yang menjadi niat kami untuk mengajukan seni jaipongan dan pencak silat guna mendapat pengakuan secara hukum dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda,” paparnya.

Ike pun mengatakan, kedua seni tersebut diprioritaskan diajukan ke UNESCO. Ike khawatir jika tidak diprioritaskan, maka bukan tidak mungkin kedua seni tersebut akan diajukan negara lain ke UNESCO.

“Karena, kesenian ini sudah tersebar dan berkembang di setiap daerah maupun negara, sehingga ada anggapan kedua seni ini bukan hanya milik Jabar, tetapi milik Indonesia dan dunia,” ujarnya.

Sementara penggiat dan pupuhu Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat (KPJJB), Mas Nanu Munajat mempertanyakan kenapa hal itu tidak dilakukan dari dulu. Menurut Nanu, seni jaipongan dan pencak silat sudah menjadi milik masyarakat Indonesia dan internasional, sudah sepantasnya mendapat penghargaan dari pemerintah.

“Tapi kenapa seni lain (tari saman) yang malah mendapat pengakuan dari UNESCO,” ujarnya.***

CATEGORIES
TAGS