Isunya Tidak Pernah Bergeser

Loading

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

SEJAK Orba hingga sekarang, isu di bidang ekonomi nyaris tidak pernah bergeser, yaitu Ekonomi Biaya Tinggi (Ebit) dan soal daya saing yang rentan. Pada sisi yang berbeda, terjadi fenomena yang bersifat paradoks bahwa di bidang ekonomi, Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Ekonominya berbiaya tinggi, daya saingnya rendah, tetapi tetap seksi dan menawan. Jika demikian kondisinya, berarti dunia luar memandang bahwa ibarat gadis, ekonomi Indonesia itu memang postur dan gestur tubuhnya cantik dan seksi. Hanya saja tak pandai berdandan. Suatu hari pasti akan cantik, menawan dan bisa diajak menikah untuk memperbaiki keturunan.

Di Asia Tenggara, posisi Indonesia paling menarik untuk berinvestasi, meskipun sekarang ini ekonominya berbiaya tinggi. Lima atau sepuluh tahun ke depan kita harapkan isu tentang ebit dan daya saing yang rentan sudah harus bergeser menuju ke ekonomi berbiaya rendah dan bersaing.

Mulai dari sekarang harus bersolek agar negeri ini benar-benar sudah dapat bekerja dengan efisien dan produktifitasnya tinggi. Harus bersifat nyata, tidak hanya seperti fatamorgana. Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan Asean harus berada di depan dalam hal pembangunan ekonomi karena sumber dayanya sangat lengkap kita punyai.

Jika kita gagal atau jika kita tetap melangkah dengan berlambat-lambat dan tetap high cost, masyarakat pasti akan kecewa ketika mereka membuat perbandingan dengan negara lain. Birokrasi pemerintah di pusat/daerah, harus efisien, pelayanan kepada masyarakat harus cepat, murah dan mudah, tidak terus dipalak, disweping oleh para pekerja yang hanya berfikiran sempit, arogan dan tidak pernah berfikiran jangka panjang dan kehidupan bagi keluarganya sendiri.

Regulasinya juga harus memberikan kepastian hukum sekaligus kepastian usaha. Ketidakpastian adalah ongkos yang harus dipikul oleh masyarakat. Para elit politik di pusat dan di daerah, tolong berubahlah kerangka pikir dan kerangka kerjanya ke depan. Berfikir dan bertindaklah dengan baik untuk masa depan negerimu yang oleh negara lain memandang Indonesia bak mutiara yang bernilai ekonomi tinggi di masa depan.

Jangan pernah memandang mereka untuk terus menjajah meskipun upaya itu secara tersembunyi pasti ada. Pandanglah mereka sebagai kawan untuk bekerjasama, melakukan aliansi dan kolaborasi tanpa pernah harus mengorbankan kepentingan nasional. Korupsi, kolusi dan nepotisme tidak boleh hidup subur di negeri ini karena KKN akan mematikan efisiensi.

KKN hanya berfikir untung tanpa berkeringat dan jika keuntungan itu diraihnya hanya dipakai oleh kelompoknya sendiri. KKN adalah sumber high cost karena dialah yang menyuburkan rent secking.

Negeri ini mulai sekarang harus berbenah, bersolek terus tanpa harus berhenti. Sistem meritokrasi politik dan ekonomi harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab dan konsisten. Setiap individu adalah sumber daya potensial di masyarakat. Mereka harus diberikan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk menjadi kontributor pembangunan ekonomi nasional.

Tidak boleh setiap talenta dan bakat individu diabaikan begitu saja seperti laskar tak berguna. Mulai sekarang dan seterusnya, peran mereka harus didayagunakan di bidang apapun, ekonomi, politik, hukum, kesenian atau budaya.

Masa depan Indonesia adalah milik kita sebagai bangsa yang berdaulat. Berdaulat secara politik, berdaulat secara geografis, berdaulat secara ekonomi, hukum dan juga berdaulat secara hankam. Oleh karena itu kita harus menjadi bangsa yang bersaing. Secara ekonomis akan bisa menjadi bangsa yang bersaing kalau ekonominya tidak berbiaya tinggi alias high cost.

Semoga berhasil menjadi bangsa yang besar seperti yang diproyeksikan oleh berbagai kalangan baik di dalam maupun di luar negeri. ***

CATEGORIES

COMMENTS