Berbuat Baik Bagi Sesama dengan Ikhlas
![]()
Oleh: A. Burhan

Ilustrasi
BERBUAT baik dengan ikhlas memang mudah untuk dikatakan, tetapi sangat sulit untuk diamalkan. Sampai di mana batas keikhlasan itu, ialah menurut derajat kejiwaan seseorang. Sedangkan untuk mengukur derajat kejiwaan itu sendiri tidaklah mudah.
Bagi orang biasa tidak mudah untuk mengukur dirinya pribadi, kaena orang biasa tidak mudah untuk melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya.
Mengapa orang biasa tidak dapat melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya pribadi? Oleh karena mata hati orang biasa pada umumnya tertutup oleh rasa terlalu cinta pada dirinya sendiri, sehingga kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan tidak nampak sama sekali. Sehingga sangat sulit untuk melihat dan menentukan batas keikhlasan yang ada pada diri pribadi kita masing-masing.
Misalnya ada orang yang perlu segera ditolong dengan uang tunai sebanyak Rp. 100.000,- sedangkan kita hanya mempunyai sebanyak itu untuk keperluan hidup pada hari itu juga. Bagaimanakah caranya kita memberi pertolongan kepada orang itu? Kalau misalnya uang Rp. 100.000,- tersebut kita serahkan semua, akibatnya seluruh kebutuhan hidup kita pada hari itu tidak dapat terpenuhi dan akhirnya kita akan menderita, dan penderitaan itu menimbulkan rasa gelisah.
Rasa gelisah atau menyesal itulah suatu tanda tidak atau kurang ikhlas. Dapat dikatakan, sejumlah uang yang kita berikan itu, pada saat itu melampaui batas kerelaan (keikhlasan) kita. Jadi, berapakah yang dapat kita berikan kepada orang yang perlu ditolong itu? Oleh karena sangat sulit mengukur derajat keikhlasan atau kejiwaan kita sendiri dengan tepat, maka ada baiknya sebelumnya melakukan musyawarah di dalam pikiran kita sendiri, kalau dalam percakapan ungkapannya demikian: “Berapakah keikhlasanku untuk memberikan pertolongan, karena orang itu, juga saudaraku sangat butuh pertolongan.
Tetapi aku sendiri juga membutuhkan untuk mempertahankan kehidupanku hari ini.” Apa yang terlintas dari pikiran pertama, misalnya Rp. 25.000,- untuk dia dan 75.000 untuk kebutuhan hari ini. Maka laksanakanlah apa yang terlintas pertama, dengan kasih sayang memberikannya, maka keikhlasan pun akan muncul ke bahagiaan atau rasa puas karena telah dapat berbuat baik untuk orang lain dengan ikhlas.
Derajat keikhlasan naik, walau mungkin hanya 25%. Hal ini harus dipupuk, agar 25% naik menjadi 50 dan akhirnya 100%. Tetapi, apabila pikiran yang pertama muncul dibantah sendiri, dan ditawar-tawar lagi dalam pikiran, akhirnya niat pertama ingin berbuat baik pun akan hilang, dengan alasan: “Saya sendiri masih membutuhkan, maaf saya tidak dapat menolong.” Perbuatan baik tidak ada pada hari itu dan tidak ada keikhlasan dalam diri kita. Apabila demikian, maka derajat keikhlasan tidak pernah naik, malah semakin hari semakin turun, karena masih selalu memikirkan kebutuhan diri sendiri yang tidak pernah habis.
Bahkan mungkin ia akan merosot sampai tingkatan yang paling rendah dan kalau kita lengah dan kurang wasada dalam menghadapi godaan-godaan dalam masyarakat ramai ini mungkin juga tidak hanya merosot, bahkan hancur sama sekali, iman juga akan merosot, dan kepercayaan pada diri sendiri juga hilang.
Untuk dapat berbuat baik dengan ikhlas, kecintaan kita kepada Tuhan sebagai Sembahan kita yang sejati harus ditumbuhkan menjadi 100%. Oleh karena apabila kecintaan kita pada keduniawian 100% maka kecintaan kita kepada Tuhan menjadi 0%. Orang yang tidak memiliki kecintaan kepada Tuhan, akan sulit berbagi dengan orang lain, karena tidak merasa bahwa dirinya sebenarnya juga berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Berarti semua hamba bersaudara, berbuat baik kepada orang lain berarti juga menolong dirinya sendiri.
Berbuat baik kepada sesama sebenarnya mempunyai dasar cinta kepada sesama makhluk. Mencintai orang lain dengan tulus ibaratnya sebagai pohon bunga yang ditanam dalam pot. Makin besarnya pohon bunga, makin sempit potnya. Ia lalu memecah potnya dan akarnya akan tertanam dalam tanah yang luas tidak ada batasnya. Apabila cinta kita kepada sesama tidak terbatas hanya pada anak, istri, suami, keluarga, tetapi meluas ke tangga, teman sekantor dan seterusnya, ibarat akar pohon bunga yang memecah pot, akhir cinta kasih menjadi luas, dan kuat.
Apabila kita sudah dapat memberikan kasih sayang kepada sesama tanpa membedakan jenis, derajat, bangsa, golongan maka perbuatan baik pun sudah tanpa batas. Keikhlasan akan tumbuh ketika berbuat untuk orang lain. Hati menjadi ringan, rasa damai dan tenteram selalu meliputi hati, karena di mana pun berada selalu di sambut dengan penuh kasih yang tulus juga dari orang-orang yang ditemui, kerukunan dan ke damaian masyarakat tumbuh dari perbuatan baik yang dilaksanakan dengan keikhlasan.***
