68 Tahun Merdeka
![]()
Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi
BANGSA Indonesia telah mengenyam kemerdekaannya sebagai bangsa yang berdaulat penuh selama 68 tahun. Kita patut syukuri bersama atas nikmat yang telah Tuhan berikan kepada bangsa Indonesia sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini.
Kemerdekaan adalah sebuah modalitas sekaligus menjadi energi positif untuk menggerakkan roda kehidupan dalam sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Perubahan demi perubahan untuk menuju kehidupan yang lebih berkualitas dan menjadi lebih bermakna bagi kehidupan seluruh bangsa Indonesia secara lahir dan batin harus terwujud.
Kalau tidak, bangsa Indonesia pasti akan dicap sebagai bangsa dan negara yang “gagal” membangun rumah masa depannya. Gagal berarti sebuah kerugian, yang bisa bernilai material maupun sepiritual. Umurnya sudah tidak muda lagi, momentum demi momentum sudah banyak kita lalui dengan segala macam bentuk pengorbanan.
Banyak hal sudah bisa diraih oleh bangsa ini, namun masih banyak pula masalah yang masih harus dibenahi dan diselesaikan. Problem kehidupan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kritik dan otokritik. Di sepanjang zaman, problem kehidupan itu akan selalu hadir ditengah-tengah proses menuju perubahan yang akan kita tuju.
Persoalan kehidupan kebangsaan hanya bisa ditangani dengan kerja keras dan kerja cerdas dengan memaksimalkan kemajuan iptek yang telah berhasil dikuasai oleh bangsa ini. Masalah pangan dan energi adalah kebutuhan pokok utama manusia yang tidak akan pernah tergantikan untuk menopang kehidupan manusia di muka bumi sampai kiamat datang.
Di dua sektor ini, Indonesia harus berdaulat karena sumber bahannya tersedia dan memang disediakan oleh Tuhan untuk menopang kehidupan seluruh bangsa Indonesia. Melalui suatu proses resolusi yang terukur, maka bangsa ini akan bisa mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya, termasuk masalah yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan energi.
Pada sektor pangan dan energi, bangsa Indonesia tidak boleh mengalami kegagalan karena bahan mentahnya sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. Proses resolusi itu harus disertai dengan melibatkan lokomotif dengan kekuatan menarik gerbong sepanjang rantai nilai kehidupan, yakni berupa sistem tata nilai kejujuran, keamanahan dan keikhsanan yang pada ujungnya harus bisa dipertanggungjawabkan kepada bangsa, negara dan tentu kepada sang pencipta.
Jangan mudah terkesima dan takjub dengan yang namanya sanjungan dan keajaiban. Membangun rumah masa depan Indonesia yang berkehidupan damai dan sejahtera adalah proses resolusi yang patut diabadikan untuk diwujudkan di sepanjang rantai nilai kehidupan berbangsa dan bernegara dari zaman ke zaman.
Sampai hari ini kita masih banyak berseloroh, bercanda dan saling menghardik dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Serius tapi sepertinya tidak serius karena faktor tadi, yakni sikapnya masih suka pakai bahasa candaan, hujatan, curhatan dan hardikan. Sebagian dari para pemimpin di negeri ini masih banyak yang menjadi bagian dari masalah ketimbang yang menjadi bagian dari solusi.
Buktinya tidak sedikit yang terlibat dan terbukti kena kasus pidana korupsi dan tindakan tidak terpuji lainnya. Proses resolusi Indonesia ke depan untuk membangun rumah masa depannya tidak ada pilihan lain kecuali memang harus dipimpin oleh sosok yang jujur, amanah dan jiwanya yang ihsan. Pada sisi lain, kehidupan berbangsa dan bernegara ini juga harus semakin terpimpin untuk mencapai kehidupan yang damai dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Dirgahayu Indonesia. ***
