Menjadi Teladan dalam Akhlak Terpuji
![]()
Oleh : Fauzi Aziz

ilustrasi
KITA sekarang hidup di zaman modern. Cobaan dan godaan terlalu banyak, kalau harus dihitung-hitung. Sangat beragam bentuk, jenis, dan sifat cobaan yang menghampiri hidup kita. Tak pandang bulu cobaan dan godaan itu menghampiri hidup manusia, apakah dia kaya maupun miskin.
Para ahli sosiologi atau pskologi memberikan gambaran bahwa pada zaman modern ini struktur psikososial hampir seluruh masyarakat di manapun mengalami guncangan akibat pengaruh perubahan peradaban, baik yang bersifat positif maupun negatif. Dari yang bersifat baik sampai yang bersifat buruk. Para ustad, pendeta, romo, biksu, guru dan pendidik pada umumnya memberikan catatan kritis tentang ancaman dekadensi moral yang bisa menjadi ancaman serius terhadap rontoknya bangunan moral anak-anak dan generasi muda penerus peradaban.
Ini pasti menjadi keprihatinan kita bersama sebagai orang tua, siapa pun mereka. Apakah sebagai kepala rumah tangga biasa atau kebetulan saudagar yang sukses, atau pejabat negara yang memilki jabatan dan kekuasaan.
Sebagai kepala rumah tangga biasa, sudagar, dan pejabat negara memilki tanggung jawab moral untuk mengasah dan mengasuh anak-anaknya termasuk para stafnya di lingkungan kedinasan masing-masing untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berbudi luhur. Faktor suri teladan dari mereka adalah mutlak dan menjadi keharusan dan kewajiban agar mereka harus bisa memberikan asupan gizi dan energi positif kepada anak-anak dan generasi penerus bangsa yang menyehatkan dan menyuburkan perilaku baik dan positif.
Harus Kontinyu
Suri teladan itu harus kontinyu diperlihatkan dengan penuh ketulusan dan kejujuran tanpa basa basi, baik di rumah, di jalan maupun di lingkungan pekerjaan. Suri teladan harus diekspresikan dalam tindakan dan tidak cukup dalam ucapan atau ajakan saja. Kalau sekarang banyak pejabat negara yang melakukan KKN, maka perbuatannya itu pasti bukan suri teladan bagi anak-anak dan generasi penerus.
KKN adalah racun mematikan bagi siapa saja yang ikut menikmatinya. Pemberantasannya harus dilakukan secara masif dan pantang menyerah, karena KKN akan merusak sendi-sendi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pilihan kita sangat terbatas dalam hidup ini, kalau tidak mau di bilang hanya ada dua pilihan, yaitu baik dan buruk. Kita pasti dan harus memilih yang baik. Hanya orang-orang yang keblinger kalau memilih yang buruk. Hanya manusia tidak bermoral yang memilih yang buruk. Hanya orangtua yang buta mata dan hati tega memberi makan istri dan anak-anaknya dengan makanan dan kebutuhan hidup lainnya dari uang hasil korupsi atau hasil rampokan.
Kita tidak bisa berspikulasi untuk berkata bahwa masih ada waktu untuk menunda menjadi orang yang bermoral, karena merasa masih enjoy di lingkungan zona aman dan nyaman. Manusia yang nalarnya waras pasti akan berpikir bahwa hidup di dunia akan diakhirinya dengan kebaikan, bukan penuh dengan kemurkaan dan kehinaan, kecuali hanya yang nalarnya jongkok dan hatinya murka.
Indonesia tidak hanya butuh ekonomi saja tumbuh dan berkembang. Indonesia memerlukan para pengelola juga bertumbuh dan berkembang akhlaknya ke arah yang baik dan mulia, seperti harapan kita semua. Indonesia harus kita rawat dan kita ruwat agar dia tidak bangkrut, karena diurus dengan cara yang salah akibat pengelolanya tidak amanah.
Kita tidak mau menuntut macam-macam dari para pemimpin di negeri ini, kecuali hanya mengharapkan agar kita dipimpin dan diberikan suri teladan yang baik. Semoga ke depan Indonesia menjadi lebih baik, meskipun banyak orang skeptis, karena para koruptor masih gentayangan. ***
