Kemacetan

Loading

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

KITA yang tinggal di Jakarta dan di kota-kota besar lain di Indonesia saban hari menikmati kemacetan. Penyebab yang generik pasti demand lebih besar dari supply. Dampak kemacetan sudah barang tentu beragam, dari soal waktu tempuh menjadi lama, biaya BBM bertambah, biaya logistik bisa naik, sampai pada dampak medis dan psikologis menimpa masyarakat karena stres, hypertensi, gampang marah, cemas dan semuanya campur aduk.

Tapi fenomena kemacetan ini ternyata bisa terjadi dalam sisi kehidupan yang lain. Misalnya dalam komunikasi publik, pelayanan publik dan juga macet karena instruksi tidak dijalankan dan masih banyak lagi fenomena kemacetan itu terjadi dalam kehidupan kita dalam bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Kalau kita urai, maka boleh jadi problem konflik sosial yang akhir-akhir menghinggapi masyarakat, baik di kalangan elite maupun masyarakat biasa, fenomena kemacetan ini dahsyat memberikan pengaruh negatif dalam kehidupan.

Coba kita bayangkan saja contoh kecil dalam kehidupan rumah tangga bila terjadi kemacetan WC atau kran air macet, maka seisi penghuni rumah gaduh, panik dan ada kalanya terjadi saling menyalahkan dan contoh fenomena kecil semacam ini memberikan gambaran pada kita bila kemacetan telah terjadi, dampaknya ternyata bisa sangat serius dan bahkan mengerikan.

Maka dari itu kemacetan dalam skala kecil maupun besar yang terjadi di jalanan, di pelabuhan laut dan bandara, dalam komunikasi publik, pelayanan publik tidak bisa dibiarkan dan harus dapat kita atasi bersama karena kita sudah sama-sama ketahui dampak negatif yang ditimbulkannya.

Kita semua tidak boleh larut terus menerus berceloteh dalam kegaduhan menghadapi soal kemacetan ini. Kita semua harus berani dan jujur mengakui bahwa sesungguhnya kita juga adalah bagian dari permasalahan kemacetan (part of the problem), karena itu kita juga harus menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi soal kemacetan ini dalam dimensi yang luas (part of the solution).

Hal yang paling baik dan bijaksana untuk kita lakukan ke depan adalah mengubah dan membiasakan diri cara berfikir dan bertindak dalam menyikapi setiap masalah yang kerap timbul degan kerangka kerja yang berorientasi kepada bagaimana mengatasi masalahnya dan bukan sebaliknya.

Berfikir dan bertindak berdasarkan standar prosedural wajib hukumnya karena kita adalah negara hukum dan yang menjunjung tinggi kaidah-kaidah good governance. Yang tidak boleh adalah berfikir dan bertindak dengan mengunakan standar dan norma prosedural hanya dipakai sebagai bungkus sesuatu telah dijalankan sesuai prosedur, tapi fakta yang terjadi di lapangan permasalahan tak pernah kunjung selesai. Kalau demikian pasti ada yang kurang, ada yang salah, ada yang macet dan sumbatan kemacetan ini harus dijebol.

Progam debotlenacking sudah dicanangkan, jadi tinggal dijalankan saja degan time frame yang pasti. Kemacetan-kemacetan tadi kalau dapat disimpulkan berarti tidak hanya terjadi dalam dimensi yang bersifat pisik, tetapi juga terjadi dalam pola pikir dan pola tindak pada struktur manajemen dihampir semua lini. Ini tidak sehat, tidak kondusif dan ongkosnya akan menjadi semakin mahal karena problemnya berakumulasi dari waktu-kewaktu.

Ongkos adalah beban, ongkos yang makin bertumpuk mengurangi benefit. Benefit yang makin tergerus terus-menerus tentu akan menghasilkan kerugian dan pada gilirannya dapat menimbulkan injury dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial psikologis dan ini tidak terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kemacetan secara pisik seharusnya lebih mudah diatasi kalau diniatkan untuk dikerjakan. Kemacetan dalam pola pikir dan pola tindak jauh lebih sulit diatasi karena ini menyangkut aspek moralitas, perilaku, integritas, pengalaman, pendidikan dan pelatiahan serta faktor-faktor lain yang terkait.

Kalau demikian halnya, maka salah satu prioritas tinggi berskala nasional yang harus kita selesaikan sebenarnya bukan soal ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Yang lebih prioritas sebenarnya adalah mengatasi masalah KEMACETAN dalam arti luas karena kalau kemacetan benang kusutnya dapat kita urai dan dapat kita atasi, maka hampir pasti ekonomi akan tumbuh dan problem sosial, psikis dan medis akan terurai juga satu persatu dengan masyarakat menjadi lebih sehat menyongsong masa depannya.

Lebih lanjut karena kemacetan telah dapat diurai dan diatasi, maka pertumbuhan ekonomi akan berlansung lebih cepat, lebih efisien dan lebih berkualitas. Investasi di sektor riil akan lebih cepat direalisasikan dan dengan demikian problem pengangguran dan kemiskinan secara bertahap dapat teratasi.

Jadi ternyata yang namanya kemacetan itu barangkali bisa diibaratkan sebagai virus ganas yang tidak mematikan karena masih bisa diobati, tapi kalau tidak diobati akhirnya dapat mematikan juga. Sayang kalau kehidupan kita lumpuh dan sayang kalau ekonomi kita tidak tumbuh cepat gara-gara kemacetan-kemacetan tadi. Eman-eman kata orang jawa, dadi wong sugih kok lumpuh, dadi wong pinter kok bodo. Mari kita endapkan sejenak perselancaran ini untuk meruntut benang kusut tentang kemacetan ini.

Dan setelah anda tersadarkan coba membuat prioritas yang anda bisa tawarkan sebagai alternatif-alternatif prioritas untuk menata kembali kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terbebas dari kemacetan. Sebagai prioritas nasional nomor satu adalah mengatasi kemacetan dalam arti luas. Nomor dua pembangunan ekonomi, kenapa nomor dua tidak nomor satu karena ekonomi telah disandera oleh kemacetan dalam arti luas dalam kadar yang akut dan parah. Nomor tiga menata kembali kerangka hukum dan perundang-undangan.

Yang selama ini telah menyebabkan kemacetan disana-sini dalam arti luas dan bahkan menyandera baik dalam kerangka proses pengambilan keputusan maupun dalam kerangka penindakan manakala terjadi pelanggaran berat atau ringan. Ketidak jelasan aturan main adalah salah bentuk penyebab kemacetan. Nomor empat rampingkan birokrasi, sederhanakan SOP dalam proses pengambilan keputusan pejabat publik untuk lebih mempercepat proses pelayanan kepada masyarakat. Jadi atasi dulu kemacetan dan sambil jalan benahi kehidupan ekonomi masyarakat karena tidak bisa saling menunggu sebab dampaknya bisa menimbulkan kemacetan lagi. ***

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS