Inflation Of Problem
![]()
Laporan: Redaksi

Ilustrasi
INFLASI secara umum dapat kita fahami sebagai keadaan dimana harga-harga pada umumnya mengalami kenaikan akibat dari kebutuhan barang pada waktu tertentu tidak dapat dipenuhi oleh pasokan yang ada.
Pada kondisi ekstrim bisa terjadi hyper inflasi, seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada zaman orde lama, dimana inflasi mencapai 600%. Apa yang terjadi kala itu, masyarakat pada umumnya dan lebih khusus yang berpendapatan tetap, mengalami tekanan hidup yang sangat berat.
Harga kebutuhan pokok semuanya mahal, sementara daya beli merosot tajam. Akibat situasi yang seperti itu, ekonomi menjadi overheating (memanas). Kaitan dengan topik inflation of problem, maka kira-kira dapat dijelaskan di negeri ini terjadi inflasi yang “menggunung” sebagai akibat dari problem kehidupan tidak banyak dapat diselesaikan secara tepat dan tuntas oleh negara.
Makin menumpuk problem yang tak teratasi, akan makin kompleks cara mengatasinya dan tentu akan menimbulkan ongkos yang tinggi, baik ongkos sosial, politik dan ongkos ekonominya. Bisa dibayangkan kalau penumpukan problem tersebut mencapai kondisi hyper, maka situasinya bisa menjadi buruk dan memanas.
Semuanya menjadi serba mahal dan ini sangat merugikan bagi kita semua, meskipun diproyeksikan oleh berbagai kalangan republik ini akan menjadi negara besar. Sekarang Indonesia sebenarnya sudah menjadi besar dilihat dari aspek demografi, hampir dihuni oleh 240 juta jiwa.
Kekayaan alamnya berlimpah dan hampir semuanya ada dan milik kita bersama sebagai bangsa.Tapi sayang, masalahnya sangat banyak, baik di bidang ekonomi, hukum, sosial dan politik. Korupsinya juga berjibun dan akut. Hukum tidak bisa ditegakkan dengan baik, ekonominya high cost dan perburuan rentenya sangat subur.
Etika berpolitiknya amburadul dan transaksional. Konflik sosial terjadi dimana-mana dan melalui media, saban hari dapat kita ikuti pemberitaan dan visulisasinya. Janji tidak banyak ditepati. Infrastruktur ekonominya buruk. Pelayanan publiknya juga masih banyak dikeluhkan.
Kerusakan lingkungan cukup parah. Kalau seperti ini tumpukan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini, maka dapat dikatakan di Indonesia terjadi keadaan Hyper Inflation of Problem. Jika problem-pproblem tersebut dapat dikuantifisir dan diperhitungankan dengan pertumbuhan ekonomi yang dewasa ini berada pada kisaran 6-6,7%, maka pertumbuhan netonya bisa lebih rendah dari angka tersebut. Bisa hanya 5% atau lebih rendah lagi.
Artinya, kalau mau dilihat dari sisi positifnya, berarti pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dengan ringannya melenggang mencapai angka 7-8% lebih seperti yang pernah terjadi sebelum krisis ekonomi tahun 1998.
Kita mesti serius menyikapi terjadinya inflation of problem ini dan dengan kepala dingin harus dapat diselesaikan setahap demi setahap agar ongkosnya tak terlampau mahal yang pada ujungnya hanya akan menjadi beban fiskal yang berat.
Secara kontinyu dan berkesinmbungan harus diatasi satu demi satu secara cepat dan tepat. Birokrasi pemerintah di pusat/daerah tidak boleh lagi bekerja dengan semangat business as usual, boros dan tidak fokus. Penilaian bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara gagal (in danger), yang tingkat korupsinya merajalela, yang pelayanan publiknya tidak efisien, harus menjadi cambuk untuk segera bersikap sigap menangani berbagai bentuk dan masalah yang dihadapi bangsa.
Taruhannya sangat berat dan memilukan. Dis-trust kepada pemerintah sudah terjadi. Demo terjadi dimana-mana sebagai wujud dari ketidaksabaran masyarakat mencermati keadaan yang terjadi karena banyak yang menjadi harapannya nyaris tidak direspon dengan baik oleh pemerintah.
Hyper inflation of problem kalau tidak bisa diatasi bisa berabe.”Revolusi” atau reformasi jilid 2 atau 3 dan seterusnya bisa saja terjadi. Tapi sebagai harapan, kondisi paling buruk seperti itu jangan sampai terjadi karena hasilnya belum tentu baik dan mahal lagi ongkosnya. Karena itu lebih baik kita perbaiki sama-sama.
Pemerintah bekerja keras sesuai kewenanganya. Masyarakat juga harus ikut membantu secara aktif, baik pelaku usaha, para investor, para pakar dan masyarakat luas agar inflation of problem dapat teratasi sehingga hidup kita sebagai bangsa menjadi lestari, damai dan sejahtera.
Pada akhirnya kita tidak akan menjadi negara yang berpotensi negara gagal atau bahkan menjadi negara gagal. ***
