Apa Yang Harus Dilakukan
![]()
Oleh : Fauzi Azis

Fauzi Azis
INI sebuah pertanyaan yang harus kita jawab bersama di sisa waktu saat manusia hidup di dunia. Kemajuan teknologi di berbagai bidang telah banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Perubahan-perubahan tersebut tentu berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam cara berpikir dan bertindak manusia yang kemudian menghasilkan berbagai transformasi dari yang bersifat filosofis dan praktis.
Proses transformasi tersebut pada gilirannya juga dapat mempengaruhi pembentukan karakter dan kepribadian seseorang, pandangan hidupnya, gaya hidupnya dan lain-lain. Pasti yang dikerjakan manusia sekian abad lamanya baik secara perorangan maupun kelompok sudah banyak hasilnya. Baik yang menyebabkan hidup manusia menjadi bertambah baik secara material dan sepritual maupun dapat pula terjadi sebaliknya. Proses ini pula yang kemudian juga menyebabkan terjadinya berbagai kondisi dan situasi dalam kehidupan manusia di dunia.
Damai, peperangan, terorisme dan bentuk-bentuk aktifitas lainnya hampir semuanya pernah dilewati oleh setiap manusia di sepanjang hidupnya. Adakalanya juga sering terjadi paradoks kehidupan, yaitu bahwa setiap manusia pada umumnya mengharapkan kehidupan yang damai, tapi adakalanya kedamaian itu dicapai dengan melakukan peperangan terlebih dahulu, baru terjadi perdamaian. Seharusnya tidak boleh terjadi paradoks yang demikian. Pendek kata, hidup kita semua di dunia hingga saat ini, rasanya hampir tidak pernah luput dari dinamika kehidupan yang warnanya selalu melahirkan soal kebaikan dan keburukan, soal damai dan peperangan (tidak harus perang dengan senjata), soal cukup dan kekurangan, soal kemiskinan dan kesejahteraan.
Problematik yang bersifat paradoksal ini sepertinya tidak pernah dapat diakhiri atau diselesaiakan. Lantas apalagi yang harus dilakukan agar kehidupan kita di sisa waktu hidup kita di dunia benar-benar dapat membuat hidup kita ini menjadi paripurna, dalam pengertian bisa membuahkan surplus neraca kehidupan yang berguna bagi kemanusiaan dalam bentuk tabungan dan investasi jelang dunia akan berakhir.
Tindakan yang harus kita lakukan antara lain adalah: 1) Membangun dan memastikan kesadaran diri dan komunal bahwa dunia yang sudah sekian lama kita huni dan kita eksploit habis-habisan untuk kemanusiaan pasti akan berakhir dan pasti akan diakhiri oleh sang empunyai dunia ini, yaitu Tuhan dan juga sang penciptanya. 2) Meminta maaf dan ampunan kepada dunia/bumi dan seisinya dan tentu kepada sang pencipta bumi karena disekian waktu lamanya manusia telah memeras dengan rakusnya terhadap bumi dan seisinya untuk membangun kekayaannya tanpa memperhatikan kepentingan yang lainbaik terhadap manusia yang lain maupun terhadap mahluk yang lain, yaitu binatang, tumbuhan, mineral, tambang dan lainlainnya.
Kenapa yang ini disampaikan dengan cara demikian? Hal ini disebabkan karena manusia yang pintea, yang setengah pintar dan yang tidak pintar sedang dibayang-bayangi oleh krisis pangan dan energi dunia. Krisis ini menghantui karena di sektor pangan dan energilah kehidupan manusia bergantung. Yang lain-lain hanyalah sekedar pelengkap dan sekedar alat bantu, seperti sarana transportasi dan telekomunikasi. Kalau kesadaran individual dan komunalnya tidak tumbuh bahwa bumi akan segera mengakhiri tugasnya, maka krisis pangan dan energi bisa berpotensi membuka terjadinya konflik kemanusiaan baru dalam bentuknya yang berbeda dengan konflikkonflik kemanusiaan yang pernah terjadi selama ini atau juga bisa sama. 3) Tabungan dan investasi kemanusiaan di dunia yang berujud tangible dan itangible tidak boleh dipisahkan baik pencatatannya maupun pengelolaannya.
Aset tangible perlu bagi manusia dan kemanusiaan (harta benda dan kekayaan pisik lainnya). Aset intangible jauh lebih perlu bagi manusia dan kemanusiaan (wujudnya bisa berupa amal soleh kita, ibadah kita, kepedulian kita terhadap sesama, kejujuran kita, keikhlasan kita, ilmu yang bermanfaat dan bentuk-bentuk aset intangible lainnya). Kedamaian yang abadi akan bisa kita raih jika totalitas nilai aset tangible yang kita peroleh kalau pada pada akhirnya akan bermuara kepada pelipatgandaan nilai tambah penguasaan aset intangible tersebut. Maka dari itu, tadi kita sebut pencatatan dan pengelolaannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya mengalir dalam suatu proses kehidupan manusia yang sangat bermakna bagi pembentukan tabungan dan investasi manusia yang akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Haliq di akhir zaman.
Kita upayakan bersama sama, untuk melipatgandakan nilai aset itangible agar menghasilkan surplus yang besar untuk bekal kita bersama selama kita hidup di dunia dan kelak di hari kemudian. 4) Karena didalam diri manusia pada saat yang sama sering melakukan perbuatan yang salah selain tentu perbuatan yang benar, maka hal yang paling baik dan bijaksana untuk dikerjakan adalah meninggalkan perbuatan yang selama ini dianggap salah menurut norma apapun, seperti berbohong, tipu menipu, korupsi, menyakiti orang lain, tumbuhan dan binatang. Dan harus lebih banyak melakukan hal-hal yang dianggap baik dan benar menurut norma apapun juga.
Kita akhiri kehidupan ini dengan kemenangan demi kemenangan yang gemilang, artinya yang akan menghasilkan nilai tambah yang berlipatganda di penguasaan aset intangible. Yang akan dibawa mati bukan yang tangible tapi aset yang intangible. Normalnya dalam sisi kehidupan manusia di dunia akan selalu menghasilkan dua dimensi, yaitu suka dan duka. Suka karena kita berhasil memperoleh aset tangible dengan cara yang halal dan akan dicatat sebagai aset intangible karena juga kita gunakan dengan cara yang benar dan halal. Duka lara dan nista bisa saja berhinggap pada kehidupan seseorang manakala aset tangible yang dimilikinya diperoleh dengan cara yang salah/tidak halal.
Kedukaan itu hadir karena kemudian secara kejiwaan mempengaruhi hidupnya, misal rasa cemas, takut diketahui orang banyak dan takut kalau kemudian dijerat hukum. Bahkan bisa jadi bisa mendatangkan bencana kemanusiaan. Kalau situasinya demikian, boleh jadi, baik aset tangible maupun intangiblenya nilainya bisa merah bukan biru. Tugas kita bersama sekarang adalah berarti harus memperbaiki KPI (Key Performance Indicator) kita untuk menghasilkan aset tangible yang berkualitas dan halal, yang kemudian akan menambah nilai aset intangible yang pasti lebih berkualitas karena inputnya yang berasal dari aset tangible yg halal dan berkualitas. Inilah yang harus kita lakukan sebelum tutup buku, sebelum lampu-lampu kehidupan di bumi mati permanen karena tidak ada lagi oksigen dan unsur-unsur lain yang bisa membuat manusia dapat bertahan hidup.***
